Tuesday, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Tuesday, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Kiat Sukses Bertahan di Industri Pangan Selama Puluhan Tahun

Jumat 09 Mar 2018 00:08 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Dwi Murdaningsih

Beragam makanan kemasan yang dijual di supermarket.

Beragam makanan kemasan yang dijual di supermarket.

Foto: Reuters
Pelaku industri, khususnya industri pangan wajib menguasai proses dari hulu ke hilir.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Direktur Operasional PT Kelola Mina Laut (KML) Food Zainul Wasik berbagi kiat bertahan di industri makanan selama 25 tahun. Dia berbagi di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui seminar nasional bertajuk "Perkembangan Pertanian Modern Berbasis Sumber Daya Manusia Lokal sebagai Penguatan Ketahanan Pangan Lokal", Kamis (8/3).

Di depan mahasiswa FPP dari enam program studi, yakni Agribisnis, Agroteknologi, Ilmu dan Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan dan Budidaya Perairan (Perikanan), Zainul berbagi kiat menghidupkan agroindustri di Indonesia. Ia berbagi rahasia bagaimana dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, industri makan tempatnya berkarya mampu menghasilkan omzet hingga Rp 3 triliun per tahun.

Menurut Zainul, sebagai pelaku industri, khususnya industri pangan, menguasai proses dari hulu ke hilir menjadi hal terpenting. "Mulai dari budi daya, bahan baku, processing, peningkatan produk, sampai distribusi, kemudian diterima oleh konsumen, kita melakukan semua itu dengan pola integrated," ujar Zainul melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Kamis (8/3).

Selain itu, dia juga mengutarakan, ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam meningkatkan daya saing guna menumbuhkan sektor industri. Ketiga unsur tersebut, yakni inovasi, pengetahuan manajemen, dan semangat enterpreneurship.

Terakhir, Zainul menambahkan, yang harus diingat dalam mengelola sebuah bisnis, unsur kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga harus tetap diperhatikan. Di samping nilai profit, aspek kesejahteraan masyarakat juga tidak boleh dilupakan. "Melakukan dua hal sekaligus, pertama adalah membuat bisnis yang bisa memberdayakan masyarakat banyak dari hasil budi daya perikanan dan pertanian, kemudian melalui ekspor-impor ada profit untuk perusahaan," kata Zainul.

Pada kesempatan yang sama, hadir pula Vice President Non-Government Organization (NGO) Head, Heart, Hand, Healthy (Four H) Indonesia, Ooy Haerudin. Dalam paparannya, Ooy menaruh harapan pada mahasiswa FPP UMM agar siap menjadi pelopor petani Indonesia dan memegang kendali pada industri pangan dunia. "Saya harap dari kalian generasi muda, ke depannya tidak lagi ada impor bahan baku dari luar. Kita sepenuhnya mengandalkan beras dan yang lain dari dalam negeri," kata Ooy.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA