Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Tanaman Bebas Gangguan Hama dengan Perangkap Feromon

Senin 26 Februari 2018 10:26 WIB

Red: EH Ismail

Perangkap serangga feromon.

Perangkap serangga feromon.

Foto: Humas Balitbangtan.
Feromon adalah perangkap serangga dewasa jantan spesifik.

Kemampuan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menghasilkan teknologi tidak diragukan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Itulah yang membuat Balitbangtan dinobatkan sebagai lembaga penelitian dengan jumlah paten terbanyak di Indonesia untuk kategori pertanian.

Tahun lalu, DPR meminta Balitbangtan menyediakan 40 persen benih jagung hibrida untuk mendukung program swasembada. Bukan hanya aspek kuantitas,  secara kualitas teknologi Balitbangtan juga makin meningkat. Pada 2016, jagung hibrida tongkol dua dihasilkan dan diberi nama Nakula Sadewa (Nasa) 29 oleh Presiden Joko Widodo pada Hari Pangan Sedunia di Boyolali.

Peningkatan kualitas inovasi Balitbangtan terlihat dari teknologi yang bukan hanya efektif namun juga aman bagi manusia dan lingkungan. Feromon merupakan contohnya. Pengendalian hama pada sayuran cabai dari ulat grayak (Spodoptera litura) dan Helicoverpa armigera dapat menggunakan feromon grayak dan feromon armi. Feromon adalah penarik serangga dewasa jantan spesifik dan kemudian terperangkap dan mati.

Menurut Doktor I Made Samudra, peneliti dari BB Biogen, sifat spesifik membuat feromon ramah lingkungan. Feromon sangat cocok untuk menggantikan atau meminimalisasi penggunaan pestisida. Apalagi, penggunaan pestisida tidak hanya membunuh hama target, namun juga organisme terutama musuh alami sehingga populasi hama pada suatu waktu bisa meledak banyak karena musuhnya mati. Lagi pula, pestisida yang jatuh ke tanah akan merusak lingkungan. Residu pestisida pada bagian tanaman yang dikonsumsi juga membahayakan manusia.

Saat dibandingkan dengan produk sejenis dari Taiwan, feromon karya anak bangsa ternyata lebih efektif. Bukti keampuhan teknologi ini terlihat dari pertanaman cabai di Pacet. Pertanaman cabai dilengkapi perangkap feromon bebas gangguan hama-hama tersebut. Dari enam perangkap diperoleh 247 ekor serangga dewasa S litura dan 164 ekor H armigera.

Feromon Armi selain dapat menanggulangi hama ulat Helicoverpa armigera pada tanaman cabai, juga pada hama serupa pada tomat, jagung, kapas dan tembakau. Sementara Feromon Grayak selain mengendalikan hama ulat grayak poliphagus S litura yang menyerang tanaman cabai, juga dapat digunakan pada hama serupa tanaman kubis, tomat, sayuran, kedelai, bawang, tembakau.

Untuk produk feromon grayak, telah terjual setelah dapat hak paten dari Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenkumhan, terlisensi, dan ijin edar. Adapun Feromon Armi sedang dalam proses mendapatkan hak paten dan lisensi.

Menurut Kepala BB Biogen, Mastur PhD, perangkap feromon sangat cocok untuk mendukung pertanian organik karena ramah lingkungan dan menyehatkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketika Belgia Benamkan Tunisia

Ahad , 24 Juni 2018, 11:38 WIB