Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Sulsel Kembangkan Industri Rumput Laut

Jumat 03 Mei 2013 12:51 WIB

Rep: Meiliani Fauziah/ Red: Nidia Zuraya

Dua orang petani budidaya rumput laut memisahkan tali pengikat dengan rumput laut hasil panennya (ilustrasi).

Dua orang petani budidaya rumput laut memisahkan tali pengikat dengan rumput laut hasil panennya (ilustrasi).

Foto: Antara/Zabur Karuru

REPUBLIKA.CO.ID, BULUKUMBA -- Pabrik rumput laut ditargetkan berdiri di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Bupati Bulukumba, Zainuddin Hasan mengatakan sedang menggenjot target produksi sebesar 250 ribu ton per tahun. Saat ini produksi baru mencapai 80 ribu ton per tahun. "Semoga bisa terkejar satu-dua tahun mendatang," ujar Zainuddin Hasan, Jumat (3/5).

Saat ini dikatakan Zainuddin sudah berdatangan tawaran dari sejumlah investor. Namun selama target produksi belum tercapai, budidaya  rumput laut masih menjadi tambahan penghasilan sehari-hari untuk masyarakat. Pembangunan pabrik rumput laut pun sudah direncanakan sejak tahun 2011 silam. 

Satu hektare (ha) lahan bisa menghasilkan rumput laut sebanyak 5 ton. Satu ton rumput laut dihargai Rp 250 ribu. Saat ini Bulukumba memiliki total luas lahan rumput laut sebesar 9 ribu ha. Namun lahan yang berproduksi baru sekitar 6 ribu ha. Zainuddin berencana menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam rencana pembangunan rumput laut ini. Pabrik rumput laut rencananya akan dibangun oleh PT Mega Zanur.

Kawasan lain yang juga tertarik pada budidaya rumput laut yaitu Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Satu kilogram (kg) rumput laut dihargai Rp 10 ribu. Biaya produksi yang murah juga membuat masyarakat tertarik mengembangkan industri rumput laut. Satu kali produksi memakan biaya sekitar Rp 100 ribu.

Ditemui dalam kesempatana sama, Asissten 2 Ekonomi  Bidang Pembangunan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Muhammad Hero mengatakan daerah sedang merancang industri olahan rumput laut. Nantinya rumput laut akan diolah menjadi dodol atau jus.  Pelaku usaha disasar untuk ibu-ibu rumah tangga dan perempuan muda.  "Harus ada nilai tambah, agar masyarakat tertarik mengembangkan rumput laut," ujarnya kepada ROL.

Kabupaten Bantaeng juga tengah mengembangkan industri talas olahan. Setiap tahunnya Kabupaten Bantaeng mampu menghasilkan talas sebanyak 40 ton. Satu kg talas dihargai Rp 5.000. Pemerintah daerah juga tengah mengembangkan laboratorium kultur jaringan untuk kebutuhan ini. Hero mengatakan pihaknya bekerjasama dengan Jepang untuk menghasilkan talas olahan dengan kualitas global.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES