Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Pergantian Pipa Blok Rokan Merupakan Hal Krusial

Rabu 22 May 2019 13:20 WIB

Red: Budi Raharjo

Fasilitas minyak PT Chevron Pacific Indonesia di daerah Minas yang masuk dalam Blok Rokan di Riau. (ilustrasi)

Fasilitas minyak PT Chevron Pacific Indonesia di daerah Minas yang masuk dalam Blok Rokan di Riau. (ilustrasi)

Foto: Antara/FB Anggoro
Pertamina anggap pergantian pipa ini merupakan salah satu proyek penting Blok Rokan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) menilai rencana Pertamina yang akan mengganti pipa minyak di Blok  Rokan memang merupakan persoalan yang krusial. CPI mengatakan memang salah satu aspek yang paling penting agar bisa menjaga produksi Blok Rokan adalah dengan mengganti pipa penyaluran tersebut.

Senior Vice President Policy Goverment and Public Affairs Chevron Pasific Indonesia, Wahyu Budiarto menjelaskan usia pipa yang menyambung dari Gathering Station Blok Rokan ke Dumai sudah berusia hampir 60 tahun. Pipa tersebut kata Wahyu perlu dilakukan peremajaan.

Rencana peremajaan tersebut sudah menjadi salah satu agenda dari CPI sejak 2011. Hanya saja hal tersebut tidak bisa dilakukan perusahaan karena minimnya waktu.

"Dari sisi teknis, cost recovery itu membuat kami berfikir gak mungkin kita kerjain. Sebab waktunya gak akan cukup. Kami sudah bilang ke pemerintah bahwa kita gak akan ngerjain ini. Cuman memang kita bilang ke pemerintah, sebaiknya ini jadi prioritas untuk bisa diganti," ujar Wahyu, Rabu (22/5).

Wahyu menjelaskan saat informasi tentang pengelolaan Blok Rokan akan dilakukan oleh Pertamina, hal pertama yang diinformasikan oleh Chevron adalah pergantian pipa tersebut. Wahyu menjelaskan Chevron pun mengusulkan agar pergantian pipa tersebut bahkan perlu dilakukan lebih dulu jangan menunggu 2021.

"Sebab, perkiraan kami proses pergantian pipa itu butuh 3 sampai 5 tahun. Nah saat ada pengumuman Pertamina ambil alih, kami sudah langsung kasih alarm ke mereka. Ini penting sekali loh. Jangan sampai terlambat bangunnya. Kalau baru 2021 baru bisa jadi 2026-2027," ujar Wahyu.

Wahyu menjelaskan mengapa prosesnya panjang, sebab selain karena pipa yang diganti merupakan pipa besar berukuran 30 inchi, panjang dari gathering station ke Dumai sekitar 200 kilometer. Ia juga menjelaskan untuk melakukan pergantian saat ini tantangannya adalah karena jalur pipa sudah berdampingan dengan jalan raya masyarakat yang jika memang akan dilakukan pergantian ada dampak sosialnya.

"Dulu itu memang dibuat sebagai jalan inspeksi. Saat jadi jalan raya itu banyak masyarakat. Padahal dulu hutan semua. Maka dampak sosialnya juga pasti ada," ujar Wahyu.

Atas perhitungan tersebut, kata Wahyu, apabila perusahaan yang melakukan pergantian, perusahaan tidak punya cukup waktu untuk melakukan hal tersebut. "Nah rencana kita mau ganti dulu, kita mau cari jalan baru diluar perkampungan. Nah mindah lokasi baru ini yang menjadi kendala. Itu yang menjadi isu tidak cukup waktu. Apalagi kalau perlu ada pembebasan lahan lebih dari lima hektar, perlu ada tim dan Panlok khusus itu kan. Jadi kami rasa tidak cukup," ujar Wahyu.

Pertamina sendiri juga menjadikan pergantian pipa ini merupakan salah satu proyek penting. Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu menjelaskan Pertamina sudah menunjuk PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk mengerjakan proyek tersebut. Sejauh ini Pertamina sudah melakukan Front End Engineering Design (FEED) proyek pipa minyak Blok Rokan.

Pertamina berharap tahap konstruksi bisa dilakukan pada akhir tahun 2019. "Mungkin akhir tahun ini sudah melakukan pembangunan fisik," kata Dharmawan akhir pekan lalu.

Perkiraannya, proyek penggantian pipa minyak Blok Rokan bisa selesai  2021. Sehingga Pertamina bisa menjaga kehandalan produksi Blok Rokan ketika alih kelola dari Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada 9 Agustus 2021 mendatang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA