Sabtu, 7 Zulhijjah 1439 / 18 Agustus 2018

Sabtu, 7 Zulhijjah 1439 / 18 Agustus 2018

Jonan Minta Pertamina Bertansformasi Jadi Industri Kimia

Rabu 25 April 2018 11:27 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan keterangan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/3)

Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan keterangan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/3)

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Industri kimia penting karena sumur-sumur minyak sudah kian tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta PT Pertamina (Persero) menyiapkan transformasi menjadi industri kimia.

"Kalau industri otomotif sudah beralih ke mobil listrik, bagaimana industri migas ini? Ya, harus buat industri kimia, " kata Jonan di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (25/4).

Lebih lanjut, Jonan menjelaskan, industri kimia menjadi hal paling tepat bagi PT Pertamina. Sebab, umur sumur minyak sudah makin tua. Selain itu, kilang-kilang minyak juga makin berkurang cadangannya. Hingga sekarang juga belum ditemukan sumber migas baru yang memiliki potensi minyak besar.

Sebelumnya, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto memaparkan soal progres industri mobil listrik. Setidaknya ada dua tantangan utama dalam pengembangan mobil listrik di Indonesia.

 

Baca juga, Jonan: Pertamina tak Perlu Takut Rugi Jual Premium. 

 

Pertama adalah penyediaan stasiun pengisian daya listrik dan yang kedua adalah penyesuaian pajak mobil listrik atau sejenisnya agar harga jual ke masyarakat menjadi lebih terjangkau. "SPLU (stasiun pengisian listik umum) adalah syarat utama untuk mengembangakan mobil listrik dan hibrida, walaupun model charging antarkeduanya berbeda," kata Jongkie.

Jongkie berpendapat, sudah saatnya pemerintah di kota-kota besar Indonesia menyiapkan peraturan daerah (perda) yang mewajibkan pusat perbelanjaan menyediakan stasiun pengisian daya listrik di lokasi parkir.

Pengisian daya listrik itu tidak harus gratis, boleh dikenakan biaya. Hal terpenting tempat pengisian daya mobil listrik makin banyak dan mudah dijangkau masyarakat. "Charging tidak mesti gratis, bisa membayar pakai uang atau kartu kredit atau pakai alat," katanya. "Banyak cara untuk segera menyediakan pengisian daya listrik."

Ia juga menyambut positif langkah PLN untuk menyiapkan stasiun pengisian daya listrik guna menyambut perkembangan teknologi otomotif pada masa mendatang. "Kami menyambut baik mempercepat penerapan pengisian daya listrik," katanya.

Sementara itu, tantangan kedua adalah agar pemerintah menyesuaikan tarif pajak kendaraan listrik sehingga harganya lebih terjangkau oleh masyarakat. "Selama tarif pajaknya belum sesuai maka sulit karena harganya mahal. Mobil listrik dari sana sudah mahal karena pakai dua mesin. Ditambah pajak 125 persen, semakin mahal. Siapa yang mau beli?" katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES