Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Harga Batu Bara Meningkat, Gas Bumi Jadi Alternatif

Senin 12 Mar 2018 15:33 WIB

Red: Gita Amanda

Gas bumi PGN kian diminati industri.

Gas bumi PGN kian diminati industri.

Foto: PGN
Kenaikan harga batu bara membuka peluang perusahaan pembangkit listrik untuk beralih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) siap memenuhi peningkatan kebutuhan pasokan gas untuk pembangkit listrik di tengah meningkatnya harga batu bara. Seperti diketahui, harga batu bara terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir seiring tingginya permintaan dari negara-negara Asia seperti Cina, India, dan Vietnam.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menetapkan kenaikan Harga Batu bara Acuan (HBA) untuk bulan Maret 2018. Melalui Keputusan Menteri ESDM No.1320 K/32/MEM/2018 yang ditetapkan awal Maret 2018, besaran HBA untuk Bulan Maret 2018 ditetapkan sebesar 101,86 dolar Amerika Serikat (AS) per ton atau mengalami kenaikan 1,16 persen dibanding HBA Februari yang dipatok 100,69 dolar AS per ton.

Sektretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama, mengatakan kenaikan harga batu bara ini akan membuka peluang perusahaan pembangkitan listrik untuk beralih menggunakan bahan bakar gas bumi. PGN saat ini terus meningkatkan kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dalam hal penyediaan kebutuhan pasokan gas untuk pembangkit listrik yang dioperasikan anak usaha PLN seperti Indonesia Power (IP) atau PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).

“Seperti kita tahu, harga batu bara di pasar terus meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir. Tentunya gas bumi sebagai pilihan bahan bakar pembangkit listrik akan menjadi solusi yang menarik. Karenanya kami terus mendorong PLN dan anak usahanya untuk beralih menggunakan bahan bakar gas bumi yang lebih murah dan lebih bersih untuk lingkungan,” kata Rachmat, Senin (12/3), seperti dalam siaran persnya.

Saat ini PGN sudah memasok gas untuk kebutuhan bahan bakar pembangkitan listrik di beberapa pembangkit. Seperti Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan (UPJP) Tanjung Priok milik Indonesia Power dan Unit Pembangkitan Muara Karang milik PJB.

Di UPJP Tanjung Priok, penyaluran gas PGN sudah dimulai pada awal tahun 2010 dan selanjutnya telah diperpanjang dalam beberapa periode kontrak. Untuk saat ini, PGN dan PLN telah menandatangani kontrak perpanjangan jual beli gas untuk IP UPJP Priok yang merupakan perpanjangan ketujuh dari perjanjian yang berlaku mulai 1 Februari 2018 sampai dengan durasi satu tahun ke depan.

PGN sudah menandatangani kontrak untuk penyaluran gas 30-36 BBTUD dan interruptible sebesar 64 BBTUD, sehingga total penyaluran gas dari PGN dapat mencapai 100 BBTUD atau setara daya pembangkitan 500 Megawatt (MW). “PGN berkomitmen untuk tetap menjaga keberlangsungan penyaluran gas setelah berakhirnya kontrak nantinya,” ujar Rahmat.

Pada bulan Juni 2017, PGN telah menyelesaikan upgrading infrastruktur penyaluran gas di IP UPJP Priok dalam hal penaikan tekanan gas sesuai dengan kebutuhan Gas Turbin dan kapasitas infrastruktur gas. Sehingga dapat memberikan kontribusi dalam hal efisiensi penyediaan harga pokok produksi pembangkitan IP UPJP Priok.

Kapasitas pembangkit IP UPJP Priok terpasang sebesar kurang lebih 1.300 MW (blok 1, 2 dan 3) dan rencana blok 4 sebesar 740 MW yang diperkirakan akan beroperasi pada semester dua tahun 2018. Sehingga total kapasitas terpasang di IP UPJP Priok sebesar 2.100 MW. Pasokan Gas untuk IP UPJP Priok saat ini didapatkan dari penyaluran gas Nusantara Regas dengan rata-rata volume 60-80 BBTUD dan PGN dengan rata-rata volume 60-90 BBTUD.

Sedangkan untuk PJB UP Muara Karang, PGN dan PLN telah menandatangani kontrak jual beli gas pada bulan Februari 2018 untuk jangka waktu selama satu tahun. Dengan volume kontrak lima BBTUD dan interruptible sebesar 55 BBTUD atau setara kapasitas pembangkitan 280 MW.

Saat ini Kapasitas terpasang pembangkit PJB UP Muara Karang sebesar kurang lebih 1.700 MW (blok 1, 2 dan serta PLTU 4-5) dan rencana blok 3 sebesar 500 MW yang diperkirakan beroperasi pada tahun 2020. Sehingga total kapasitas terpasang di PJB UP Muara Karang nantinya bakal mencapai 2.200 MW.

Pasokan Gas untuk PJB UP Muara Karang saat ini didapatkan dari penyaluran gas Nusantara Regas dengan rata-rata volume 100-150 BBTUD dan Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan rata-rata volume 30-60 BBTUD. “Untuk penyaluran gas PGN ke PJB UP Muara Karang, saat ini PGN dalam tahap pembangunan infrastruktur gas yang direncanakan akan selesai pada semester satu tahun 2018,"ujar Rahmat.

Dengan masuknya penyaluran gas PGN untuk PJB UP Muara Karang nantinya, diharapkan dapat lebih memberikan kehandalan pasokan energi bahan bakar. Terutama untuk pembangkit di PJB UP Muara Karang.

Secara sistem kelistrikan, baik IP UPJP Tanjung Priok maupun PJB UP Muara Karang memasok kebutuhan listrik pada grid 150 KV untuk wilayah Jakarta dan sebagian Tangerang. Selanjutnya akan diturunkan termasuk pada sistem kelistrikan untuk industri dan rumah tangga.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA