Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Indonesia-Bulgaria Tingkatkan Kerja Sama Bidang Energi

Kamis 22 Feb 2018 13:34 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Budi Raharjo

Panel surya  (ilustrasi)

Panel surya (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
2025, kapasitas terpasang pembangkit energi terbarukan di indonesia mesti 45.000 MW.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pemerintah melalui kementerian ESDM bekerja sama dengan Pemerintah Bulgaria meningkatkan kerja sama dalam bidang energi mix. Langkah ini dilakukan untuk bisa meningkatkan bauran energi terbarukan di Indonesia sebesar 23 persen pada 2025 mendatang.

Menteri ESDM, Ignasius Jonan menjelaskan kerja sama Sustainable Off-grid Electrification ini adalah meningkatkan energi listrik berbasis surya yang bisa digabungkan dan dicampur dengan energi listrik lainnya. Berbasis tenaga surya nantinya proyek proyek kedepan akan menggunakan tenaga surya sebagai tambahan atau switching dari energi primer.

"Pemerintah memiliki target energi terbarukan 23 persen dalam bauran energi nasional pada 2025. Dengan demikian, pada 2025, kapasitas terpasang pembangkit energi terbarukan di indonesia mesti 45.000 megawatt (MW). Saat ini, kapasitas terpasang 7.500 MW," ujar Jonan di Hotel Kempinski, Kamis (22/2).

Jonan menjelaskan selain tersedia dengan cukup, energi terbarukan mesti memenuhi syarat keterjangkauan. Selain membuat pasokan energi lebih andal, semakin banyak warga bisa mengakses. Salah satu kemungkinannya adalah dengan menerapkan off-grid electrification and renewable energy.

Mekanisme ini memungkinkan ada penyimpanan energi sekaligus peralihan otomatis antara penggunaan energi terbarukan dan energi konvensional. "Teknologi yang bisa mengubah-ubah penggunaan sehari-hari energi EBT dan konvensional. Teknologi ini sudah digunakan di 58 negara," tambah Jonan.

Alexander Rangelov dari lntemational Power Supply (IPS) menjelaskan teknologi ini bisa digunakan di desadesa kamis desainnya yang ringkas. pemeliharaan yang sederham dan hemat energi. Teknologi ini adalah hasil dari riset bertahun-tahun.

Saat ini, Exeron telah dipasang di terminal bus di Solo sebagai bagian dari proyek Kementetian Perhubungan. Alat ini bisa menggabungkan dan mengolah energi dan matahari dan energi listrik konvensional.

 

Dengan demikian, sistem yang hibrid ini bisa menggunakan energi matahari jika memungkinkan. Namun bisa langsung diubah untuk menggunakan tenaga listrik dari PLN ketika cuaca mendung atau energi matahari tidak tersedia.

"Exeron bisa menyediakan sistem yang bisa menyediakan listrik secara berkelanjutan di daerahdaerah terpencil. Hal ini bisa juga untuk mengmangi pemakaian solar untuk PLTD di desa-desa. Hal ini tidak saja ramah lingkungan karena mengurangi polusi tetapi juga mengarah dari efisiensi secara lebih luas," ujar Alexander.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA