Friday, 6 Zulhijjah 1439 / 17 August 2018

Friday, 6 Zulhijjah 1439 / 17 August 2018

Pengamat: Produksi Bawang Putih Tertahan Masalah Lahan

Rabu 14 February 2018 12:11 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pasokan bawang putih berkurang , jelang Imlek harga bawang putih naik, kata pedagang bawang Supri dan Daliyem   di pasar Beringharjo Yogyakarta, Selasa (6/2).

Pasokan bawang putih berkurang , jelang Imlek harga bawang putih naik, kata pedagang bawang Supri dan Daliyem   di pasar Beringharjo Yogyakarta, Selasa (6/2).

Foto: Republika/Neni Ridarineni
Kementan telah berupaya menambah lahan melalui aturan tanam bagi importir

REPUBLIKA.CO.ID, Pengamat: JAKARTA -- Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika mengatakan salah satu penyebab utama produksi bawang putih belum bisa menutupi kebutuhan karena persoalan lahan yang tidak tumbuh signifikan.

 

"Kita perlu penambahan sekitar 50 ribu hektare. Pertanyaannya lahan yang dipakai lahan apa dan dimana," kata Yeka dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (13/2)

 

Yeka menilai lahan untuk produksi bawang putih sudah sangat terbatas, sehingga sulit untuk melakukan perluasan, apalagi komoditas ini bukan jenis tanaman yang bisa cukup masif ditanam pada wilayah tropis.

 

Saat ini, lahan di beberapa daerah sentra bawang putih seperti Lombok Timur, Temanggung dan Magelang tercatat mulai mendekati kapasitas maksimal dan mengalami keterbatasan produksi.

 

Kementerian Pertanian, tambah dia, telah berupaya untuk menambah luas lahan pertanian bawang putih melalui aturan wajib tanam buat importir, tapi jumlahnya juga tidak terlalu signifikan.

 

Dalam kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menambahkan keterbatasan lahan ini membuat impor bawang putih masih diperlukan.

 

Menurut dia, kesulitan dalam pemenuhan lahan untuk bawang putih adalah terbatasnya lahan yang cocok akibat harus bersaing dengan penanaman komoditas lain.

 

"Kalau ada penambahan (eksisting) lahan, artinya kalau kita sudah gunakan untuk satu komoditas, lahan untuk komoditas lainnya menjadi berkurang," kata Dwi Andreas.

 

Ia juga menambahkan bawang putih memerlukan lahan yang minimal berada diatas 700 meter-1.000 meter permukaan laut, padahal ketinggian tersebut merupakan daerah unggulan untuk penanaman hortikultura. 

 

"Di ketinggian itu, budi daya hortikultura menguntungkan, sehingga orang jadi rebutan lahan," ujarnya.

 

Selain itu, penanaman bawang putih juga membutuhkan biaya tanam yang tidak murah, karena petani memerlukan modal setidaknya sebanyak Rp 60 juta per hektare.

 

Dengan kondisi tersebut, Dwi Andreas menilai target pemenuhan lahan untuk bawang putih seluas 60 ribu hektare dan swasembada produksi pada 2019 menjadi kurang rasional. 

 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luasan lahan bawang putih pada 2016 hanya tercatat mencapai 2.407 hektare atau 0,4 persen dari keseluruhan lahan produk hortikultura seluas 608,34 ribu hektare.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES