Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Melambung Tinggi, Harga Gabah Capai Rp 7.000

Jumat 12 Jan 2018 04:16 WIB

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Budi Raharjo

Petani merontokan gabah saat panen padi di Bogor, Jawa Barat, Senin (8/1). Perum Bulog memasang target penyerapan beras sebesar 2,7 juta ton pada 2018.

Petani merontokan gabah saat panen padi di Bogor, Jawa Barat, Senin (8/1). Perum Bulog memasang target penyerapan beras sebesar 2,7 juta ton pada 2018.

Foto: Yulius Satria Wijaya/Antara

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Persatuan pengusaha penggilingan padi dan pengusaha beras Indonesia (Perpadi) mengungkap harga gabah tengah melambung tinggi karena pasokannya terbatas. Sekretaris Jenderal Perpadi Burhanuddin menyebut, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Jawa saat ini berkisar Rp 6.200 per kilogram (kg).

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah yang hanya Rp 3.700 per kilogram. "Akhir-akhir ini lonjakan harganya memang sedang tinggi sekali," kata Burhanuddin, saat dihubungi Republika, Kamis (11/1).

Menurutnya, di beberapa daerah seperti Karawang, Jawa Barat, harga komoditas tersebut bahkan sudah hampir menyentuh level Rp 7.000 per kilogram. Sementara, di beberapa sentra produksi yang sedang panen, harga gabah relatif lebih murah, yakni berkisar Rp 5.500 per kilogram.

Saat ini memang tengah terjadi lonjakan harga pada beras yang dipicu oleh kelangkaan pasokan. Karena itu, pemerintah telah memutuskan untuk mengambil langkah impor demi mengamankan pasokan beras. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, sebanyak 500 ribu ton beras akan segera didatangkan dari Thailand dan Vietnam pada akhir bulan ini.

"Saya tidak mau mengambil resiko kekurangan pasokan. Saya mengimpor beras khusus," ujarnya, dalam konferensi pers di Auditorium Kementerian Perdagangan, Kamis (11/1).

Mendag menjelaskan, beras yang akan diimpor adalah beras kualitas khusus yang tidak ditanam di Indonesia. Jenis beras tersebut memiliki spesifikasi bulir patah di bawah lima persen. Meski masuk dalam golongan beras khusus, Enggartiasto memastikan komoditas pangan utama itu akan dijual dengan harga medium.Melambung Tinggi, Harga Gabah Capai Rp 7.000

JAKARTA -- Persatuan pengusaha penggilingan padi dan pengusaha beras Indonesia (Perpadi) mengungkap harga gabah tengah melambung tinggi karena pasokannya terbatas. Sekretaris Jenderal Perpadi Burhanuddin menyebut, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Jawa saat ini berkisar Rp 6.200 per kilogram.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah yang hanya Rp 3.700 per kilogram. "Akhir-akhir ini lonjakan harganya memang sedang tinggi sekali," kata Burhanuddin, saat dihubungi Republika, Kamis (11/1).

Menurutnya, di beberapa daerah seperti Karawang, Jawa Barat, harga komoditas tersebut bahkan sudah hampir menyentuh level Rp 7.000 per kilogram. Sementara, di beberapa sentra produksi yang sedang panen, harga gabah relatif lebih murah, yakni berkisar Rp 5.500 per kilogram.

Saat ini memang tengah terjadi lonjakan harga pada beras yang dipicu oleh kelangkaan pasokan. Karena itu, pemerintah telah memutuskan untuk mengambil langkah impor demi mengamankan pasokan beras. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, sebanyak 500 ribu ton beras akan segera didatangkan dari Thailand dan Vietnam pada akhir bulan ini.

"Saya tidak mau mengambil resiko kekurangan pasokan. Saya mengimpor beras khusus," ujarnya, dalam konferensi pers di Auditorium Kementerian Perdagangan, Kamis (11/1).

Mendag menjelaskan, beras yang akan diimpor adalah beras kualitas khusus yang tidak ditanam di Indonesia. Jenis beras tersebut memiliki spesifikasi bulir patah di bawah lima persen. Meski masuk dalam golongan beras khusus, Enggartiasto memastikan komoditas pangan utama itu akan dijual dengan harga medium.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES