Sabtu, 7 Zulhijjah 1439 / 18 Agustus 2018

Sabtu, 7 Zulhijjah 1439 / 18 Agustus 2018

KAHMI: Waspadai Turbulensi Ekonomi Tahun 2018

Senin 18 Desember 2017 10:40 WIB

Red: Fernan Rahadi

Lambang Kahmi

Lambang Kahmi

Foto: twitter.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun 2018 dinilai akan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha di Indonesia. Optimisme menangkap peluang pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan kejelian di tengah tahun politik. 

Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI) Kamrussamad mengatakan, proyeksi ekonomi Indonesia 2018 berpotensi turbulensi jika pilkada serentak tidak dapat dikendalikan dan diamankan dengan baik. 

"Jika tak terkendali dapat berdampak hengkangnya investor yang memang sudah cemas menghadapi tahun politik 2018-2019," katanya, Senin (18/12).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017  sekitar lima persen dengan skala prioritas kebijakan pembangunan infrastruktur nasional dinilai belum mampu menggerakan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara maksimal. Salah satu indikator kecemasan adalah tingkat kemiskinan mengalami kenaikan.

Menurut data BPS maret 2017 kemiskinan 1,83 persen menjadi 27.771.220 orang yang terbagi 10.670.000 orang berada di kota dan 17.101.220 orang berada di Pedesaan. Kemiskinan  meningkat diakibatkan dua hal yaitu angka pengangguran semakin meningkat dan angkatan kerja yang kurang terserap.

Faktor kedua yang berpotensi meningkatkan kemiskinan adalah ketimpangan ekonomi indeks rasio gini 2017 secara nasional sebesar 0.40-0.41. Sedangkan rasio gini untuk daerah sebesar 0.33-0.41.

Menurut Kamrussamad, angin segar pada 2018 sejatinya masih berhembus. Optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terlihat dari proyeksi Bank Dunia. Tahun 2018, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,3 persen. 

Angka itu lebih tinggi dari proyeksi 2017 yang sebesar 5,1 persen. Proyeksi tersebut ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. Selain pertumbuhan ekonomi yang masih optimistis, statistik perbankan Indonesia juga  mencatat nilai kredit pembiayaan masih cukup tinggi, yakni Rp 26,87 triliun. 

Kondisi ini mampu mendorong dunia usaha kembali menggeliat. “Di sisi lain, butuh sumber daya manusia yang berkualitas dalam mengantisipasi perubahan dunia yang cepat di era digitalisasi saat ini,” ujar Kamrussamad.

 

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES