Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Manufaktur Terabaikan Jadi Penyebab Ekonomi RI Terus Melemah

Kamis 14 December 2017 06:11 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Budi Raharjo

Pengamat Ekonomi Faisal Basri

Pengamat Ekonomi Faisal Basri

Foto: Wihdan Hidayat/Republika

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menyatakan, ada hal mendasar yang membuat perekonomian Tanah Air terus melambat. Pasalnya, kata dia, dalam tiga tahun terakhir, Indonesia telah tertinggal dari beberapa negara tetangga seperti Cina.

"Faktor yang bikin lemah perekonomian yaitu industri manufaktur. Pascakrisis, industri manufaktur hampir selalu tumbuh di bawah PDB (Produk Domestik Bruto), terjadi deindustrialisasi prematur," jelas Faisal dalam diskusi di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu, (13/12).

Menurutnya, pelemahan ekonomi Indonesia pun dikarenakan kurangnya fokus ke industri manufaktur. "Kenapa ekonomi Indonesia lina persen terus? Karena pulihnya ekonomi dunia cepat menguntungkan negara-negara yang ekspor industri manufaktur," kata Faisal.

Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Cina tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu karena sebanyak 94 persen ekspor Cina berupa manufaktur. Kemudian ekspor industri manufaktur Amerika Serikat pun sebesar 62 persen. Sedangkan ekspor produk manufaktur Indonesia baru 38 persen.

"Jadi kesadaran untuk akselerasi industri sangat penting. Terutama kalau mau pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari keseimbangan lima persen," tegasnya.

Selama ini, kata dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat mengandalkan harga komoditas. Dengan begitu, bila harga komoditas turun, perekonomian nasional ikut terpengaruh.

"Saya kecewa sama Presiden (Joko Widodo) karena jarang bicara industri. Padahal kita sudah punya sumber daya alam dan konfigurasi industri. Setidaknya, presiden harusnya kunjungi pabrik. Sekali sih (presiden) pernah kunjungan ke pabrik Mitsubishi," ujar Faisal.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, tahun depan industri bisa tumbuh sesuai target pemerintah yakni 5,67 persen, asalkan tidak ada gangguan. Terutama industri makanan dan minuman, yang menurutnya berkontribusi paling besar ke industri manufaktur.

"Kalau makanan dan minuman tidak diganggu oleh lelang, pertumbuhannya bisa delapan persen. Delapan persen dikali 30 sudah 2,4 persen, nah dari situ. Pendorong industri kedua adalah transport equipment atau alat angkut," ujar Faisal.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES