Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Pengamat Ragu Indonesia Bisa Swasembada Kedelai

Ahad 19 Februari 2012 16:07 WIB

Rep: sefti oktariana / Red: M Irwan Ariefyanto

Kedelai

Kedelai

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor saat ini masih tinggi. 70 persen produksi kedelai Indonesia diperoleh dari impor. Sejumlah pengamat meragukan apakah Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor. Pengamat ekonomi pertanian Universitas Gajah Mada, Mochamad Maksum menyebutkan ketergantungan Indonesia dengan kedelai impor masih amat tinggi, sehingga sulit menghentikan impor komoditas ini. “Harga kedelai impor murah,” katanya kepada Republika, Ahad (19/2).

Saat ini tingkat produktivitas kedelai hanya 0,8 juta sampai 1 juta ton per hektar. Padahal, jika melihat kebutuhan nasional, tingkat produksinya harus digenjot sampai 2,4 juta ton per hektar. Kebutuhan kedelai nasional pertahunnya mencapai 1,6 juta ton. Produksi kedelai lokal hanya 800 ribu ton.

Maksum mengimbau pemerintah harus tegas membuat aturan yang mampu meningkatkan produktivitas petani kedelai dalam negeri. Anggaran khusus wajib dialokasikan pemerintah agar universitas di dalam negeri bisa menciptakan varietas kedelai unggul.

Sebelum era reformasi, Indonesia sempat swasembada kedelai karena harga di tingkat petani cukup bagus. Namun sejak IMF masuk, produksi kedelai semakin menurun. Malah pada 1998 lalu, Indonesia menjadi pengimpor besar kedelai.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES