Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Perusahaan Indonesia Tahan Krisis Hanya 30 Persen

Ahad 20 Aug 2017 02:00 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

Kampus ITB

Kampus ITB

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDUNG -- Hubungan karyawan dengan manajemen perusahaan harus terjalin dengan baik. Hal ini sangat penting jika perusahaan ingin berjalan lancar terutama saat menghadapi krisis.

Hal ini terungkap dalam Seminar Kiat-Kiat Korporasi Tangguh Indonesia dalam Menghadapi Krisis, di kampus ITB, Bandung, Jumat (18/8). Acara ini digelar alumni ITB angkatan 1977 dalam memperingati 100 tahun berdirinya kampus tersebut.

Menurut Ketua panitia Seminar Kiat-Kiat Korporasi Tangguh Indonesia dalam Menghadapi Krisis, Tri Haryo Soesilo, saat krisis ekonomi 2008 dan 2014 kemarin, hanya sekitar 30 persen perusahaan di Tanah Air yang bisa stabil bahkan trennya mengalami peningkatan.

"Dari sekitar 600 lebih perusahaan terbuka, (saat krisis ekonomi 2008 dan 2014) hanya 30 persen perusahaan di Indonesia yang kategorinya tangguh," ujar Tri.

Tri menjelaskan, perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan saat krisis ini melakukan berbagai hal seperti fokus pada lini usaha yang ada, keinginan untuk memperhatikan pelanggan, dan karyawan. "Sebuah mitos untuk menghadapi krisis adalah banyak produk, ternyata salah. Dengan tajam, ternyata inovatif," katanya.

Selain itu, dia menyontohkan, perusahaan Sari Roti bisa menjadi yang terbesar di kelasnya karena sangat memperhatikan pelanggan. Produsen roti tersebut rutin menggelar pameran-pameran hanya untuk mengetahui keinginan pelanggan.

"Mereka menyurvei roti mana yang disukai anak-anak. Mana roti yang dipilih, juga roti yang dimakannya yang cepat dihabiskan. Jadi ini adalah cara-cara perusahaan untuk mengetahui keinginan pelanggaan," katanya.

Selain dihadiri para alumni ITB angkatan 1977, acara ini dihadiri juga banyak pimpinan perusahaan di Tanah Air baik BUMN maupun swasta. Menurut Direktur Utama PT Cardig Aeros Service Hotasi Nababan, karyawan merupakan bagian terpenting sehingga harus disikapi dengan sangat baik.

"Hubungan manajemen dengan karyawan sangat penting, sebagai keluarga. Jadi karyawan dan manajemennya harus dekat," katanya.

Nababan mengatakan, manajemen perusahaan harus merangkul karyawan dalam kondisi apapun. Karyawan pun, harus merasa nyaman. "Saat susah diperhatikan, saat senang mendapat bagian," katanya seraya menyebut karyawan merupakan bagian penting dalam perjalanan perusahaan.

Oleh karena itu, kata dia, akses komunikasi karyawan dengan manajemen harus terbuka seluas mungkin. Manajemen, harus bisa dihubungi karyawan kapanpun dan dimanapun. "Nomor hp, SMS dan whatsapp, berikan ke karyawan. Akses ini penting," katanya.

Jika tidak memperoleh akses, kata dia, karyawan bisa mengambil jalur lain untuk menyampaikan aspirasi mereka ke manajemen. Jangan sampai karyawan cari jalur lain, apalagi penyelesaiannya lewat PHI (pengadilan hubungan industri). "Karyawan jangan merasa dikhianati," katanya.

Selain itu, jika perusahaan ingin tetap beroperasi di tengah-tengah krisis, terdapat berbagai faktor yang harus diperhatikan. Pertama, perusahaan tidak mudah tergoda untuk mengembangkan lini usaha ke sektor lain.

"Saat lagi bagus, perusahaan tergoda untuk berinvestasi lagi, meski di luar koornya. Jadi penting untuk disiplin, fokus pada koor bisnis," katanya seraya menyebut investasi tambahan bisa dilakukan pada lini usaha yang sudah ada.

Kedua, perusahaan harus memiliki likuiditas. Kemampuan tersebut harus seimbang antara kepemilikan mata uang lokal dengan dollar. "Jangan semuanya dolar, atau semuanya rupiah," katanya.

Ketiga, perusahaan harus meminimkan utang. Hal ini sangat penting untuk menghindari penggunaan aset untuk membayar utang.

"Lalu customer. Di saat krisis, customer semakin selektif. Ini suatu seleksi alamiah N Arie Lukihardianti

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA