Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Investasi Perfilman Makin Dilirik Investor

Rabu 07 Dec 2016 03:58 WIB

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Budi Raharjo

Warga mengantre untuk masuk ke dalam bioskop.

Warga mengantre untuk masuk ke dalam bioskop.

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif Ricky Pesik menyebut bahwa sektor perfilman di Tanah Air makin kebanjiran investasi baik asing maupun domestik. Ini setelah Pemerintah menghapus sektor film dari daftar negatif Inevstasi (DNI).

Menurutnya, setelah sektor film bisa mendapatkan dukungan pendanaan dari pihak asing, banyak rumah produksi film yang bekerja sama dalam membiayai film nasional. ‎Masuknya dana ini jelas akan meningkatkan kualitas dari sebuah film yang diproduksi.

"Kemarin ada investor dari Korea yang kerja sama PH (production house) Indonesia buat garap film nasional," kata Ricky melalui sambungan telepon, Selasa (6/12).

Kerja sama ini, lanjut Ricky, merupakan salah satu dari sejumlah kerja sama yang akan dilakukan rumah produksi film setelah kemudahan akses investasi asing. Sebab selama ini sokongan dana jelas menjadi persoalan yang menghambat tumbuh kembangnya perfilman Indonesia.

Pembuatan film hanya sebagian dari sektor perfilman tanah air. Selain bagian ini, bagian lain yang akan banyak dibanjiri oleh investasi adalah film layar yang biasa ditayangkan melalui layar lebar.

Masih sedikitnya layar lebar yang tersebar baik di kota besar maupun kota kecil memperlihatkan bahwa bagian ini memiliki peluang yang sangat tinggi untuk tumbuh. Apalagi kecenderungan masyarakat untuk menikmati film melalui layar lebar semakin meningkat.

Ricky menurutkan, baru-baru ini terdapat perusahaan dari Singapura yang akan berinvestasi dengan mengucurkan dana kepada perusahaan lokal untuk‎ meningkatkan bisnis layar lebar. Adanya investasi tersebut telah memperlihatkan bahwa sektor perfilman khususny di hilir bagian layar lebar menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.

"Ini baru satu perusahaan layar lebar. Kita ada beberapa perusahaan, bisa saja mereka juga di kemudian hari akan mendapat investasi untuk meningkatkan jumlah layar lebarnya," papar Ricky.

Di sisi lain, meningkatnya bisnis layar lebar di dalam negeri dipastikan bakal berdampak pada perekonomian di daerah tersebut. Sebab, akan banyak pelaku usaha kecil yang bisa tumbuh di sekitarnya dengan menjajakan makanan kecil atau pernak pernik. Selain itu, jadwal film layar lebar yang‎ biasanya hingga larut malam, bisa menumbuhkan pelaku usaha makanan yang menjajakan jualannya hingga malam hari.

Artinya, melalui investasi asing maupun lokal atas pertumbuhan layar lebar, selain film nasional yang semakin dikenal masyarakat, akan ada dampak ekonomi lain yang ikut terangkat seperti pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil dan menangah (UMKM).


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA