Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Menteri: La Nina dan El Nino Mengacak-acak Kalender Tanam Petani

Selasa 12 Jan 2016 12:12 WIB

Rep: Sonia Fitri/ Red: Nidia Zuraya

Petani menanam bibit di sawah. (Ilustrasi)

Petani menanam bibit di sawah. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Yusran Uccang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memantau perubahan iklim global di 2016. 

Anomali perubahan iklim semisal El Nino dan La Nina juga terus dimonitor untuk ditindaklanjuti. Jangan sampai anomali iklim tersebut mengganggu aspek lingkungan hidup dan ekonomi nasional.

"Betapa pentingnya unsur lingkungan hidup, ia memengaruhi ekologi, agro ekologi, agro ekonomi sampai memengaruhi ekonomi," kata Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Selasa (12/1). Termasuk pada aspek pertanian, perubahan iklim menjadi acuan kapan petani tanam dan jenis tanaman apa yang cocok ditanam dalam kondisi tertentu.

Menteri yang berpengalaman menjadi penyuluh pertanian tersebut menerangkan, pemerintah setiap tahunnya memiliki kalender tanam yang disepakati oleh pemerintah daerah. Kalender tersebut memperkirakan dan jadi penentu produksi pangan, jumlah benih dan pupuk serta jenis tanamannya. 

Masing-masing wilayah berbeda, menyesuaikan curah hujan, kecepatan angin, evaporasi dan segala embel-embel indikasi perubahan iklim. "Namun dengan adanya anomali iklim seperti El Nino dan La Nina, semuanya berantakan, yang seperti ini akan kita susun kembali bagaimana adaptasinya," ujar Siti. 

Penyusunan kalender tanam hasil adaptasi melibatkan banyak sektor. Di antaranya BMKG, Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah termasuk nantinya kepada petani selaku pelaku produksi pangan. Jangan sampai petani salah tanam, sehingga mengakibatkan kegagalan panen.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA