Selasa, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Selasa, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

CORE: Perlambatan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Berakhir di 2014

Rabu 17 Des 2014 00:30 WIB

Rep: C78/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Hendri Saparini

Hendri Saparini

Foto: Agung Supriyanto/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Perlambatan ekonomi yang tengah dihadapi Indonesia diperkirakan berakhir pada seiring pergantian tahun. Berdasarkan pengamatan dan penelitian CORE, pada 2015 pertumbuhan ekonomi akan mengalami perbaikan dan tumbuh hingga 5,3 sampai 5,6 persen.

“Syaratnya, pemerintahan sekarang dapat memanfaatkan peluang membaiknya lingkungan eksternal untuk memaksimalkan ekonomi domestik,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini dalam diskusi seputar persoalan ekonomi nasional 2014 dan tantangan ekonomi di 2015 pada Selasa (16/12).

Dijelaskannya, terdapat beberapa sumber pertumbuhan penting di 2015. Di antaranya populasi penduduk yang tumbuh rata-rata 1,5 persen per tahun. selain itu, penurunan angka pengangguran dan kemiskikan ke depan seharusnya menjadi landasan dalam menjaga stabilitas pertumbuhan konsumsi swasta.

Pertumbuhan ekonomi domestik yang berasal dari konsumsi swasta, lanjut dia, diperkirakan mengalami pertumbuhan sampai lima persen. Pendapatan penduduk juga diperkirakan membaik seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi nasional dan internasional.

Konsumsi pemerintah tahun depan juga akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Bila perencanaan dan realisaasi baik penerimaan maupun belanja efektif, maka akan ada potensi pertumbuhan sebesar empat hingga lima persen di 2015.

Meski demikian, beberapa kebijakan inflatoir pemerintah seperti kenaikan harga BBM, penyesuaian tarif dasar listrik (TDL) di atas 900 kWh dan harga LPG 3 kilogram (kg) akan menghambat laju pertumbuhan konsumsi masyarakat terutama kelas menengah ke bawah.

Dikatakannya, jika peluang tersebut tidak dimanfaatkan karena tidak menyiapkan strategi fiskal sehingga tidak tepat sasaran, pertumbuhan ekonomi bisa jadi justru berada di bawah level 5,6 persen. Bukan hanya itu, Bank Indonesia (BI) juga berpotensi tidak menemui keberhasilan dalam mengendalikan moneter pada tahun depan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA