Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

YLKI: Harga Minya Dunia yang Merosot tak Bisa Jadi Patokan

Ahad 30 Nov 2014 17:20 WIB

Rep: c85/ Red: Bilal Ramadhan

Harga minyak dunia

Harga minyak dunia

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Harga minyak dunia terus merosot. Beberapa pakar bahkan mengkhawatirkan penurunan akan terus terjadi, dan mengulang sejarah kelam pada awal tahun 2000-an di mana harga minyak dunia menyentuh level 15 dolar AS. Hal ini merupakan akibat dari keputusan Arab Saudi yang mempertahankan produksi minyaknya pada angka 30 juta barel per hari.

Kondisi ini, normalnya akan meringankan beban pemerintah sebagai pengimpor minyak. Turunnya harga minyak dunia akan mengurangi beban subsidi BBM yang selama ini diberikan kepada masyarakat.

Namun, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) beranggapan bahwa penurunan harga minyak dunia belum bisa dijadikan patokan untuk serta merta menurunkan harga BBM. Sudaryatmo, Pengurus Harian YLKI mengatakan, harga minyak dunia tidak bisa digukanan sebagai paramter langsung dalam menentukan penurunan subsidi BBM.

"Kita ini negara miskin minyak sebenarnya. Jadi turunnya harga minyak dunia tidak bisa terus dijadikan alasan untuk menuntut penurunan BBM. Pada intinya, kami mendukung agar subsidi itu digunakan kepada sektor-sektor yang lebih bermanfaat," jelasnya kepada Republika, Ahad (30/11).

Dengan kata lain, YLKI tetap mendukung keputusan pemerintah untuk mengalihkan subsidi BBM, meskipun harga minyak dunia sedang anjlok. Ia menyebutkan, subsidi BBM selama ini hanya menyasar kepada golongan menengah ke atas. Sedangkan rakyat miskin justru tidak kecipratan manfaat dari subsidi BBM. Dia lantas menyebut, masyarakat Indonesia pada umumnya sudag pintar dalam menghadapi kenaikan BBM.

"Rakyat miskin kita 65 persen pengeluarannya untuk makanan. Bukan untuk transportasi. Jadi kami mendorong pemerintah untuk melakukan stabilisasi harga dan peningkatan infrastruktur untuk sektor pangan," lanjut Sudaryatmo.

Dia menambahkan, isu subsidi bukan lagi dibahas tentang naik atau turun, namun yang terpenting menurut Sudaryatmo adalah tepat tidaknya subsidi itu. "Jadi lebih penting agar subsidi yang ada untuk perbaikan sektor pangan. Orang miskin fokusnya ke sana," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA