Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Roadmap Pelatihan dan Pendidikan Vokasi Segera Diluncurkan

Rabu 09 Jan 2019 12:27 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pendidikan Vokasi (ilustrasi)

Pendidikan Vokasi (ilustrasi)

Foto: www.pnj.ac.id
Program pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri dilanjutkan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi, roadmap atau peta jalan dari pelatihan dan pendidikan vokasi sudah hampir rampung. Dalam waktu satu hingga dua pekan mendatang, peta jalan ini diperkirakan akan dirilis ke publik dan dapat segera diimplementasikan oleh industri.

Darmin menjelaskan, peta jalan vokasi industri berangkat dari kondisi Indonesia yang sekitar 58 persen tenaga kerjanya memiliki pendidikan paling tinggi SMP. Artinya, apabila ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemerintah harus fokus pada tahapan pendidikan selanjutnya, yakni SMK.

"Peta jalan ini akan menggambarkan bagaimana seharusnya vokasi industri berjalan dan dikembangkan," tuturnya dalam konferensi pers Outlook Perekonomian 2019 di Jakarta, Selasa (8/1).

Setidaknya ada tiga poin yang tertuang dalam peta jalan. Pertama, modul yang menjadi bahan ajar SMK. Menurut Darmin, selama ini, kurikulum ajar yang digunakan di SMK masih cenderung luas atau tidak spesifik.

Melalui peta jalan, kurikulum yang disediakan akan fokus dan tidak mengikutsertakan mata pelajaran lain. Darmin memberikan contoh, siswa yang belajar di vokasi otomotif akan ditempa dengan pendidikan otomotif saja sedari awal.

Begitupun dengan mereka yang ingin menempuh pendidikan tata busana. Upaya ini diharapkan membuat tenaga kerja Indonesia memiliki keahlian di bidang tertentu. "Harus ada modul jelas, jangan terlalu banyak yang diajarkan," katanya.

Kedua, peta jalan juga memuat perubahan kurikulum dasar bagi jenjang pendidikan SMK. Darmin mengatakan, apabila dulu kurikulum sebatas praktik dan teori, kini akan semakin dikembangkan dengan program magang.

Jadi, sebelum masuk ke dunia kerja sesungguhnya, siswa dapat memiliki gambaran pekerjaan yang akan dijalankan.

Poin ketiga, peta jalan turut menggambarkan kondisi tenaga pengajar yang harus sudah memiliki pengalaman kerja di industri.

Menurut Darmin, metode pengajaran saat ini banyak bersifatnormatif karena pengalaman dan kemampuan guru kurang mumpuni terkait praktiknya. Oleh karena itu, dibutuhkan keterlibatan dari para ahli di dunia usaha.

Darmin mengatakan, peta jalan akan mengajak para ahli di bidangnya masing-masing untuk turut mengajar para siswa. Tidak hanya SMK, metode ini dapat merambah ke sejumlah politeknik sehingga siswa memiliki gambaran lebih jelas mengenai pekerjaan sesungguhnya.

"Balai Latihan Kerja (BLK) juga akan melakukan hal sama," ucapnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, peta jalan pendidikan dan pelatihan vokasi ini akan melengkapi program link and match yang telah dilakukan Kementerian Perindustrian sejak beberapa tahun terakhir. Dalam program link and match, perusahaan diminta untuk mengakomodasi kurikulum SMK di wilayah industri tersebut dijalankan.

Menurut catatan Airlangga, program link and match sudah diterapkan di 1.700 SMK dengan melibatkan 60 perusahaan. Pada 2019, program ini diperkirakan akan mendapat tambahan 39 perusahaan untuk 185 SMK.

"Untuk pelaksanaan program pendidikan vokasi industri ini sudah kami siapkan anggaran Rp 1,78 triliun," katanya.

Selain itu, Kemenperin akan memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Petrokimia di Cilegon, Banten dan Politeknik Industri Agro di Lampung. Saat ini, Kemenperin sedang menyusun kurikulum politeknik dengan tim komite yang telah ditetapkan dan lokasi politeknik dari hibah PT Chandra Asri.

Airlangga menjelaskan, upaya itu memudahkan para perusahaan di kawasan industri tersebut dalam mendapatkan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan saat ini. "Bahkan, kami telah bekerja sama dengan Swiss untuk menerapkan pendidikan vokasi industri yang dual system di sejumlah Politeknik kami, dengan nama program Skill For Competitiveness (S4C)," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA