Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

CEO Oorth Bicara tentang Smart City

Kamis 27 Dec 2018 12:05 WIB

Red: Gita Amanda

Workshop Solo Smart City.

Workshop Solo Smart City.

Foto: Oorth
Untuk mewujudkan smart city tidak terlepas dari smart people.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Hingga akhir tahun 2018, banyak kota di seluruh Indonesia yang mulai mencanangkan program smart city sesuai dengan program pemerintah 100 kota atau kabupaten smart city. Namun untuk mewujudkannya, Indonesia membutuhkan smart society untuk memastikan program ini berhasil dijalankan. 

Kini, tiap daerah mulai mendapat bimbingan dari praktisi dalam menyusun enam pilar smart city, mulai dari smart e-government, smart economy, smart branding, smart living, dan smart environment. Dengan memiliki masterplan diharapkan arah pembangunan smart city menjadi lebih terarah dalam menjawab kebutuhan sekaligus menangkap peluang.

Dalam mengusung smart city, tidak terlepas dari smart people. Artinya, jika sebuah kota atau kabupaten mengedepankan smart people, maka tidak terlepas juga dari index pembangunan manusianya. Demikian pula jika berbicara smart economy indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi.

CEO Oorth, Krishna Adityangga menuturkan, Oorth melihat problem utama dari penerapan smart city lebih pada bagaimana memberikan solusi akan smart society. Saat ini masyarakat sangat mudah mengaplikasi dan menerima perubahan teknologi dari sisi sosial media. Namun susah untuk bergeser dari penggunaan tools teknologi lainnya. Hal ini nampak tidak terintegrasi, padahal keduanya adalah hal baru.

"Engagement secara tepat guna dan manfaat dirasakan masyarakat lebih kepada aplikasi social media atau aplikasi-aplikasi popular lainnya," ujarnya seperti dalam siaran pers, Kamis (27/12).

Oorth memperkenalkan diri sebagai sebuah aplikasi yang memberikan solusi transformasi teknologi massal yang memperhatikan behavior masyarakat dalam fase transisi menuju smart city. Oorth tidak mengarah pada IoT (Internet of Thing) yang mengarah pada automasi sistem perangkat digital dan elektronik infrastruktur. Namun konsentrasi oorth lebih pada bagaimana engagement masyarakat menuju smart city menjadi benar-benar terlaksana.

“Dengan demikian KPI dari Oorth dalam smart city adalah terintegrasinya komunikasi transformasi menuju smart city dari pemerintah ke masyarakat berjalan dengan baik, dan terintegrasi potensi sosio ekonomi budaya masyrakat yang dengan pendekatan community experience media Oorth mampu berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi dan engagement positif.” ujar nya.

Dalam smart society, mengenal adanya masyarakat cerdas sebagai masyarakat yang diberdayakan. Sangat tidak menarik jika kemudian muncul anggapan “teknologi yang cerdas”, bukan “manusia yang cerdas”. Oleh sebab itu Oorth hadir mendukung smart city dengan fokus sentuhan pada smart society.

Fakta membuktikan bahwa masyarakat mudah sekali untuk di edukasi dalam hal sosial media. Sehingga masuknya smart city melalui sosial media ini diharapkan mampu mengedukasi dan mengadaptasi konsep smart city yang diharapkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA