Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Menpar: Larangan Rapat di Hotel Sudah Dicabut Presiden

Selasa 12 Feb 2019 11:36 WIB

Red: Nidia Zuraya

Menteri Pariwisata, Arief Yahya

Menteri Pariwisata, Arief Yahya

Foto: Republika TV/Fian Firatmaja
Presiden Jokowi mencabut peraturan yang melarang instansi pemerintah rapat di hotel

REPUBLIKA.CO.ID, ANYER -- Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo sudah mencabut larangan rapat di hotel yang disampaikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dengan adanya pencabutan larangan tersebut oleh Presiden, kata Arief Yahya, maka instansi pemerintah bisa melakukan rapat di hotel.

Baca Juga

"Tadi malam Pak Presiden langsung sudah menyatakan mencabut larangan rapat di hotel. Jadi sekarang boleh rapat di hotel," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di Anyer, Serang, Selasa (12/2).

Menpar mengatakan sebagai upaya pemerintah pusat melalui Kemenpar dalam melakukan recovery pariwisata Selat Sunda yakni dengan melakukan berbagai kegiatan pariwisata di sekitar Anyer dan Carita. Bahkan, ia akan datang setiap bulan ke Anyer dan Carita hingga bulan April mendatang.

"Jadi ada sekitar 49 sampai 50 kegiatan akan dilaksanakan di sini," kata Menpar.

Ia berharap dengan adanya berbagai upaya pemulihan tersebut, akan kembali mendorong wisatawan untuk datang kembali ke Anyer dan Carita dan objek wisata pantai di Selat Sunda kembali bangkit. "Kita target sampai Maret nanti recovery itu selesai, sebab kalau lebih dari tiga bulan berat bagi para pelaku wisata di sini," kata Menpar.

Ia mengatakan bahwa yang paling memberikan dampak terhadap menurunnya kunjungan wisatawan adalah soal adanya statemen dari pemerintah mengenai status level bahaya, waspada atau siaga pada Gunung Anak Krakatau (GAK), serta pemberitaan media yang mengkhawatirkan. Sebab, kata dia, bagi masyarakat awam adanya pengumuman atau statemen tersebut dianggap sesuatu yang mengkhawatirkan karena ketidaktahuannya.

Sementara itu pemilik objek wisata Sanghyang Indah Resort, Baron Indrajaja, mengaku sangat berat jika upaya recovery pariwisata Selat Sunda lebih dari tiga bulan ke depan. Sebab, sudah dua bulan lebih pascatsunami tersebut, tingkat hunian di hotelnya kurang dari 10 persen.

"Sudah dua bulan ini kami sangat berat untuk membayar 110 karyawan yang kami miliki, karena memang tidak ada tamu. Sehingga terpaksa kami minta para karyawan ini untuk bergantian," katanya.

Ia khawatir jika pemulihan pariwisata Selat Sunda ini lebih dari tiga bulan, akan memberikan dampak terhadap karyawan karena terpaksa harus dirumahkan. "Kami berharap segera pulih kembali, karena kami di sini juga menghidupi para karyawan kami, belum listrik dan lainnya," kata Baron.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA