Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Industri Makanan Sulit Cari Pengganti Plastik untuk Kemasan

Jumat 30 Nov 2018 07:42 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Sampel makanan plastik

Sampel makanan plastik

Kemasan membebani biaya produksi sebesar 30 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rencana penerapan cukai pada plastik akan berakibat kenaikan harga produk makanan dan minuman. Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Rachmat Hidayat menilai, upaya pemerintah untuk mengurangi limbah plastik malah dapat menimbulkan masalah baru ke konsumen dan karyawan di industri tersebut.

"Kalau itu diberlakukan, dampaknya luar biasa besar. Menaikkan harga produk makanan dan minuman, membebani industri bahkan sampai ke pengangguran," ujar Rachmat Hidayat kepada Republika.co.id, Kamis (29/11).

Rachmat menjelaskan, biaya kemasan makanan dan minuman membebani biaya produksi rata-rata sekitar 30-70 persen. Dengan demikian, dikenakannya cukai ke produk plastik akan menaikkan biaya kemasan hingga 100 persen dan akan dibebankan ke konsumen.

Harga produk yang mahal akan membuat produk tidak kompetitif dan mengakibatkan industri yang menciut. "Kalau industri menciut, akan muncul pengangguran baru," imbuhnya.

Makanan dan minuman memerlukan plastik sebagai kemasan dan food safety, dan sulit untuk menggantikan plastik dengan bahan lainnya. Apabila menggunakan plastik yang ramah lingkungan, menurut Rachmat itu tidak bisa menjadi jaminan bahwa pencemaran lingkungan akan teratasi.

Dia mencontohkan gelas sebagai pengganti plastik akan menimbulkan masalah baru, tidak hanya biaya produksi yang besar. Pertama, gelas diproduksi dari pasir silica, kalau plastik dikonversi ke silica semua maka ia menilai akan menimbulkan masalah baru, alam akan defisit silica. Kedua, botol gelas beratnya berpuluh kali lipat dan membutuhkan bahan bakar minyak yang lebih banyak untik mengangkutnya. Jejak karbon akan meningkat berlipat-lipat. 

Sementara itu plastik yang ramah lingkungan atau yang bisa hancur, dinilai belum tentu bisa menjadi kemasan primer makanan dan minuman. Selain itu, belum ada teknologi plastik ramah lingkungan yang memiliki biaya ekonomis untuk produksi kemasan makanan dan minuman.

"Jika ada, sistem manajemen persampahan tidak dibenahi, plastik tetap disampahin, yakin gak aman buat lingkungan? Tadinya plastik merusak pemandangan, plastik yang hancur secara organik itu akan meracuni. Jadi itu bukan solusi," katanya.

Menurutnya, manajemen pengelolaan sampah merupakan solusi yang tepat untuk masalah pencemaran lingkungan akibat plastik. Sementara itu upaya daur ulang sudah menjadi program industri besar. Kendati begitu, menurutnya daur ulang sudah dilakukan oleh industri secara keseluruhan dengan dibantu para pemulung.

"Makanya pemulung semangat, karena ada nilainya. Karena kita pakai lagi," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA