Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Gapkindo: Pabrik Karet Remah Sumut Terancam Tutup

Ahad 28 Oct 2018 23:45 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Petani sedang menyadap karet

Petani sedang menyadap karet

Foto: Anis Efizudin/Antara
Pabrik karet remah kesulitan bahan baku karena petani tak lagi menderes karet.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Pabrik karet remah atau crumb rubber di Sumatra Utara terancam tutup akibat kesulitan mendapatkan bahan baku. Hal itu terjadi akibat terus menurunnya produksi karet rakyat.

"Produksi karet rakyat terus turun, sementara 92 persen kebutuhan dari 30 pabrik crumb rubber di Sumatra Utara mengandalkan karet rakyat," ujar Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah di Medan, Sumatra Utara, Ahad.

Menurut dia, penurunan produksi karet dalam lima tahun terakhir merupakan dampak turunnya harga yang juga sudah berlangsung lama. Akibat pelemahan harga jual karet, petani tidak melakukan penderesan atau mengabaikan tanamannya dan beralih profesi seperti jadi kuli bangunan.

Bahkan, karena dianggap tidak menjanjikan, petani melakukan penebangan  pohon karet dan menggantinya ke tanaman lain, seperti sawit dan ubi. Mengutip pernyataan petani karet, Edy menyebutkan petani karet  berkeinginan mendapatkan minimal dari penjualan per harinya sebesar Rp50.000.

 "Terancam tutupnya panrik karet di Sumut juga semakin dipicu sulitnya juga pasokan bokar (bahan olah karet) rakyat dari daerah penghasil lainnya," katanya.

Tahun 2017, Edy mencatat pasokan bokar dari daerah lain masih bisa berkontribusi besar ke Sumut. Namun, di 2018, pasokan dari daerah lain semakin sedikit karena produksi juga turun.

Akibatnya, pabrikan karet di Sumut yang biasanya beroperasi tiga shift tinggal menjadi satu shift dengan masa operasional lima atau enam hari selama sepekan. Kalaupun ada yang dua shift, operasional pabriknya hanya tiga hari selama sepekan.
 
Petani karet di Rantau Prapat, K Siregar, mengaku sudah menjual sebagian luas karetnya dan mengganti dengan sawit. Ia melakukannya karena harga jual bokar yang sekitar Rp500 per kg tidak menguntungkan.

"Sebelum sawit belum menghasilkan, saya jadi sopir untuk memenuhi kebutuahan keluarga sehari-hari," ujarya.

Pengamat ekonomi, Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, Pemerintah harus segera turun tangan mengatasi turunnya produksi karet Sumatra Utara dan daerah lain di Indonesia. "Jangan hanya membantu petani sawit, karena karet juga menjadi andalan penerimaan devisa Sumatra Utara," ucapnya.

Menurut Wahyu, untuk jangka pendek, Pemerintah bisa melakukan langkah seperti yang dijalankan Malaysia dengan.membeli karet rakyat dengan harga menguntungkan petani.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA