Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Perajin Rotan dan Tempe di Cirebon Inginkan Rupiah Stabil

Rabu 12 Sep 2018 07:17 WIB

Red: Nidia Zuraya

Seorang perajin dan penjual tempe menata dagangannya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta.

Seorang perajin dan penjual tempe menata dagangannya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta.

Foto: Antara
Pendapatan perajin tempe di Cirebon menurun sekitar 40 persen karena pelemahan rupiah

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Perajin rotan dan tempe di Cirebon, Jawa Barat, menginginkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali stabil. Pelemahan rupiah berdampak langsung kepada bisnis kerajinan rotan dan pembuatan tempe.

"Kalau kita di kerajinan rotan memang diuntungkan ketika rupiah melemah, namun kami lebih memilih rupiah stabil," kata perajin rotan Cirebon, Sumarca, di Cirebon, Selasa (11/9).

Menurutnya bagi para perajin rotan yang hasilnya itu diekspor ke luar negeri, maka akan mendapatkan peningkatan pendapatan ketika rupiah melemah, sekitar 5-10 persen dari biasanya. Namun lanjut Sumarca, para perajin rotan juga harus mengeluarkan kos produksi, karena ada beberap komponen yang harus dibeli dengan impor.

"Memang ada kabar gembiranya, karena selisih nilai tambah kurs dolar itu naik, tapi tidak banyak," katanya.

"Namun kita juga harus menambah kos biaya produksi terutama untuk komponen impor, artinya ada pengeluaran yang meningkat juga," ujar Sumarca menambahkan.

Karenanya, ia berharap nilai tukar rupiah itu stabil jangan fluktuatif, agar terjaga. Tentu ada risikonya bagi kami kalau tak stabil, karena kita kan pengerjaannya sesuai pesanan," lanjut Sumarca.

Sementara itu perajin tempe di Cirebon, Sandi mengaku merasakan imbas dari lemahnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, harga kedelai impor yang dijadikan bahan baku tempe naik sekitar Rp 500 per kilogram.

Dia mengatakan sebelum rupiah melemah, harga kedelai impor Rp 7.500 per kilogram, sekarang sudah menembus Rp 8.000 per kilogram. "Artinya ada peningkatan biaya produksi, jelas ini membebani," katanya.

Sandi mengatakan meningkatnya biaya produksi tempe menjadikan adanya penurunan pendapatan hingga 40 persen untuk setiap kali produksi. Ia memilih tidak menaikan harga maupun mengurangi takarannya, karena khawatir ditinggal pelanggan.

"Kalau ukurannya diperkecil takutnya pelanggan malah komplain, apalagi kalau dinaikan harganya, makanya kita tetap memproduksi dengan ukuran biasa, meskipun  pendapatan menurun sekitar 40 persenan," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA