Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Ekonomi Dikritik tak Sesuai Target, Ini Kata Sri Mulyani

Selasa 28 Agu 2018 18:19 WIB

Red: Nur Aini

Menteri Keuangan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani

Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Data pertumbuhan ekonomi dinilai sudah menunjukkan kondisi nyata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menanggapi kritik terhadap pertumbuhan ekonomi dari sejumlah fraksi. Kritik dilayangkan karena pertumbuhan ekonomi tidak sesuai dengan yang ditargetkan dalam Rencanan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Fraksi Gerindra dan fraksi Demokrat saat penyampaian pandangan umum fraksi di Ruang Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta, Selasa (28/8) mengkritik target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam RUU APBN 2019 yang hanya 5,3 persen padahal dalam RPJMN ekonomi ditargetkan tumbuh 7-8 persen.

"Kami sampaikan angka di situ yang menunjukkan kondisi real dan diharapkan itu akan menumbuhkan apa yang disebut kredibilitas dari angka-angka APBN," ujar Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, dalam menyusun RUU APBN 2019, pemerintah senantiasa melihat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang memungkinkan untuk dicapai dan menjadi acuan untuk perhitungan RUU APBN itu sendiri. "Kami akan lihat dari sisi supply, demand yang berasal dari konsumsi, investasi, ekspor, dan pertumbuhan yang berasal dari government spending," katanya.

Ia menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Selain itu, pemerintah ingin mampu mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan di Tanah Air.

"Kami akan menggunakan instrumen kebijakan agar pertumbuhan ekonomi kita bisa ditingkatkan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan yang saat ini sudah mencapai tingkat progres yang baik. Itu kami lakukan terus," ujar Sri Mulyani.

Dalam RAPBN 2019, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,3 persen, lebih rendah dibandingkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang mencapai 5,4 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia trennya terus meningkat sepanjang pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pada 2015 ekonomi tumbuh 4,88 persen, lalu 2016 tumbuh 5,03 persen, 2017 tumbuh 5,07 persen, dan pada semester I 2018 tumbuh 5,17 persen.

Selain itu, pemerintah akan menjaga APBN 2019 dengan menetapkan target defisit sebesar 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan defisit fiskal tahun ini 2,21 persen.

Untuk menutupi defisit tahun ini, pemerintah terus mencari alternatif. Salah satunya melalui permintaan penawaran terbatas (private placement), sehingga pasar pun yakin dan pemerintah bisa melaksanakan mandat UU APBN dengan baik.

"Kami akan tetap memperhatikan dinamika market. Kalau memang 'appetite' dari market maupun dari 'private placement' cukup bagus dan itu akan dipakai untuk sumber yang mengoptimalkan biaya penerbitan surat utang negara, itu kami lakukan," kata Sri Mulyani.

Baca: BKPM Tawarkan Proyek Pembangkit Listrik ke Investor Cina

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA