Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Jokowi Lepas Ekspor Perdana ke AS Gunakan Kapal Besar

Selasa 15 Mei 2018 23:51 WIB

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Andi Nur Aminah

Joko Widodo

Joko Widodo

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Kapal raksasa yang rutenya langsung ini, maka biaya pengiriman bisa lebih murah.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara langsung melakukan pelepasan ekspor perdana melalui kapal kontainer ukuran raksasa yang mengangkut berbagai komoditas dari Indonesia ke mancanegara. Dengan kapal raksasa yang rutenya langsung atau direct call maka biaya pengiriman bisa lebih murah dan membuat produk berdaya saing.

Jokowi mengatakan, Indonesia tidak boleh berhenti bekerja dan bergerak dalam menumbuhkan perekonomian nasional. Melalui kapal besar ini pemerintah ingin menunjukan bahwa negara ini merupakan bangsa yang tangguh dengan perekonomian yang akan terus bergerak salah satunya dalam meningkatkan kapasitas ekspor.

"Pengiriman ini sangat besar sekali dilakukan dengan sangat efisien dengan //direct call akan menurunkan biaya logistik yang sangat besar," ujar Jokowi dalam pelepasan kapal raksasa di pelabuhan Jakarta Internasional Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Selasa (15/5).

Dalam pengiriman kali ini pemerintah mengisi Kapal CMA CGM Tage yang berukuran 10 ribu TEUs dengan 4.300 TEUs. Kapal berukuran besar ini disebut bisa memangkas ongkos pengiriman hingga 300 dolar AS per petikemas. Produk yang dikirim ke AS ini lebih banyak adalah barang elektronik, alas kaki, garmen, dan beberapa produk lainnya.

Jokowi menuturkan bahwa ekspor ke AS hari ini adalah penanda bahwa Indonesia memiliki peran sangat strategis dalam geoekonomi di Indo Pasifik. Dan sebagai salah satu negara terbesar di Asia Tenggara yang terus bergerak untuk menjadikan kawasan ini sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi, pusat perdagangan, dan industri

dunia.

"Di saat yang bersamaan peningkatan ekspor seperti sekarang akan terus kita tingkatkan sehingga akan menguatkan pertumbuhan ekonomi kita," ujarnya.

Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya menegaskan Indonesia sudah berada di jalur yang tepat untuk menjadi poros maritim dunia. Keberadaan kapal-kapal terbesar ini menunjukkan bahwa IPC siap mengelola pelabuhan bongkar muat terbesar di Indonesia. Didukung dengan IT System dan peralatan modern yang ada, kami bekerja sefektif dan seefisien mungkin untuk mendukung peningkatan ekspor.

Selain kapal CMA CGM Tage ada beberapa kapal besar (mother vessel) yang rutin berlabuh di Tanjung Priok seperti generasi Post-Panamax APL Salalah dan Vessel Pelleas. Bahkan kapal APL Salalah memiliki kapasitas di atas 10 ribu TEUs dengan bobot hampir 130 ribu GT, dan panjangnya mencapai 347 meter. Rute layanan langsung atau direct-call yang ditawarkan antara lain tujuan Eropa Utara, pantai barat Amerika Serikat, dan Intra-Asia.

Menurut Elvyn, kapal-kapal ukuran raksasa tersebut menawarkan layanan angkutan barang yang lebih kompetitif dan waktu pengiriman yang lebih cepat. "Sehingga berpotensi meningkatkan daya saing produk-produk ekspor Indonesia, khususnya di Amerika Serikat," ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada 2017 surplus sebesar 11,84 miliar dolar AS. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan surplus pada 2016, yang sebesar 9,53 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan pada 2017 menunjukkan level tertinggi sejak 2013 dan 2014 yang mengalami defisit, dan kemudian kembali surplus pada 2015 dan 2016.

 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES