Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Negara Bubar, Direktur Indef: Maksudnya Negara tak Berdaulat

Kamis 22 Maret 2018 15:19 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Teguh Firmansyah

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati

Foto: ROL/Havid Al Vizki
Dahulu penjajahan pakai militer, kalau sekarang dengan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernyataan Prabowo Subianto tentang analisis yang menyebut bubarnya Indonesia pada 2030 dapat diartikan sebagai ekonomi yang tidak berdaulat dan bergantung pada asing. Demikian penilaian Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati. 

 

Menurut Enny, maksud Prabowo adalah tujuan bernegara dan merdeka yang bebas dari ketergantungan dan berdaulat. Kalau semua sektor strategis ekonomi dikuasai asing, pembangunan tergantung dana asing, dan pangan pun impor, kedaulatan Indonesia patut dipertanyakan. Bila suatu negara secara ekonomi tidak berdaulat, secara politis memang bubar.

Enny tak menampik perkataan Presiden Joko Widodo bahwa pada 2030-2045 skala ekonomi Indonesia bisa di nomor empat atau lima dunia. Apalagi, negara-negara besar mulai mengerem pertumbuhannya.

 

''Saya melihatnya lebih pada kedualatan ekonomi. Kalau kondisi terus seperti ini, ya memang jadi absurd. Sementara, ekonomi dan politik itu seperti pinang dibelah dua,'' ungkap Enny melalui telepon, Kamis (22/3).

Baca juga,  Indonesia Bubar, Prabowo Dinilai Beri Peringatan Dini.

 

Dahulu penjajahan dilakukan dengan kekuatan militer. Kalau sekarang penjajahan yang paling efektif menggunakan ekonomi, apalagi Indonesia kaya sumber daya.

Enny juga membenarkan utang luar negeri Indonesia naik lagi. Saat krisis, pemerintah mengerem utang luar negeri dan menggantinya dengan berutang dalam negeri menggunakan surat berharga negara (SBN) dalam valas. Sayangnya, kepemilikan asing atas SBN sampai 40 persen.

Dahulu utang luar negeri dihindari pascakrisis karena Indonesia diawasi betul dan pengawasannya ketat. Utang tidak boleh dipakai di luar proposal. Akhirnya pemerintah memakai utang dalam negeri dengan bunga kupon yang sesuai untuk pasar Indonesia.

 

Namun, tidak ada yang mengawasi dan pemerintah berbuat semaunya sehingga dampaknya menjadi lebih buruk dari utang luar negeri. Sekarang Indonesia tergantung pasar yang pasarnya juga luar negeri sehingga sangat tergantung kondisi global.

''Mitigasinya jadi lebih sulit karena jika The Federal Reserve kedip saja Indonesia sudah resah. Rupiah jadi objek spekulasi dan itu riil,'' kata Enny.

Selain utang, ketergantungan Indonesia terhadap asing juga besar. Dahulu impor Indonesia adalah bahan baku untuk manufaktur dan hasilnya diekspor sehingga memiliki nilai tambah. Saat ini impor besar, tetapi manufaktur dan ekspor rendah. Bahkan, produktivitas manufaktur terus turun. Ekonomi Indonesia makin tergantung dan asing menguasai sektor-sektor strategis.

''Ketergantungan impor kita malah sampai ke pangan pokok,'' kata Enny.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA