Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Pertahankan Kualitas, Bio Farma: Suhu Vaksin Perlu Dijaga

Kamis 08 Feb 2018 17:26 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Budi Raharjo

Head of Corporate Communications Bio Farma, N Nurlaela (kiri), Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Lucya (tengah) dan Corporate Secretary PT Bio Farma, Bambang Heriyanto (kanan), saat meninjau penyimpanan vaksin di UPT Farmasi Dinkes Kota Cirebon, Kamis (8/2).

Head of Corporate Communications Bio Farma, N Nurlaela (kiri), Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Lucya (tengah) dan Corporate Secretary PT Bio Farma, Bambang Heriyanto (kanan), saat meninjau penyimpanan vaksin di UPT Farmasi Dinkes Kota Cirebon, Kamis (8/2).

Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Vaksin itu dibuat dengan susah payah dan dengan teknologi yang canggih.

REPUBLIKA.CO.ID,CIREBON -- Dalam menjaga kualitas dan khasiat vaksin, PT Bio Farma melakukan penjagaan yang ketat. Hal tersebut dilakukan dengan selalu menjaga temperatur suhu vaksin, agar tidak terpapar suhu tinggi.

Sekretaris Perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto mengatakan, menjaga temperatur suhu vaksin itu sangat penting. Sebab, jika terpapar suhu tinggi maka vaksin tidak dapat digunakan.

"Vaksin itu sudah dibuat dengan susah payah, dan dengan teknologi yang canggih. Untuk menjaga kualitas, khasiat dan keamanannya, jadi di Bio Farma itu dijaga dengan ketat temperaturnya. Untuk sampai ke konsumen juga harus terjaga kualitasnya," kata Bambang di Kantor Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Kamis (8/2).

Terdapat dua cara yang dilakukan oleh Bio Farma dalam menjaga temperatur suhu vaksin, yaitu vaksin yang dijaga dalam suhu 2 hingga 8 derajat celcius. Selain itu, juga ada vaksin yang dijaga tetap di suhu minus 20 derajat celcius, yang khusus untuk vaksin polio.

"Vaksin memang ada yang disimpan di (temperatur) 2 sampai 8 (derajat celcius), ada juga yang minus 20. Yang minus 20 hanya vaksin untuk polio, dan memang dijaga temperaturnya. Kalau yang seharusnya di minus 20 disimpan di 2 sampai 8 (derajat celcius) ya rusak," katanya.

Selama proses distribusi pun, lanjutnya, juga dilakukan penjagaan yang ketat. Hal tersebut dilakukan agar pada saat vaksin sampai ke masyarakat, maka khasiatnya pun tetap terjaga.

"Selama distribusi harus dijaga temperaturnya. Jangan nanti saat mau dipakai tidak berkhasiat. Demikian hati-hatinya bahwa vaksin itu harus di-handle dan harus dijaga ketat," tambahnya.

Dimana selama proses distribusi, alurnya berawal dari Bio Farma menuju Dinas Kesehatan Provinsi, dan nantinya dibagikan ke Dinas Kabupaten Kota, yang nantinya baru masuk ke Puskesmas. Selama proses distribusi, vaksin akan dibawa menggunakan kotak pendingin atau cool box untuk tetap menjaga temperaturnya.

Walaupun jika ada vaksin yang terpapar selama proses distribusi, kata Bambang, jika digunakan pun tidak akan menimbulkan efek negatif terhadap tubuh. Hanya saja khasiatnya akan hilang dan tidak berefek kepada tubuh.

"Kalau paparan temperatur kita sudah melakukan uji stability. Jadi selain juga disimpan di suhu 2 sampai 8 derajat dan minus 20 (untuk vaksin polio), kita sudah lakukan juga uji tantang dan studi terhadap temperatur itu. Jadi tenang, tidak akan jadi racun," tambahnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA