Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Terkait Kejahatan Perbankan, Ini Saran BRI untuk Nasabah

Senin 06 Mar 2017 20:41 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Petugas menunjukan barang bukti kasus cyber crime pembobolan kartu kredit dan rilis akhir tahun Ditreskrimus Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (30/12)

Petugas menunjukan barang bukti kasus cyber crime pembobolan kartu kredit dan rilis akhir tahun Ditreskrimus Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (30/12)

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap kejahatan siber perbankan. Untuk itu, BRI menekankan pentingnya penggunaan strong password dan penggantian pin ATM serta mobile banking secara berkala.

Kepala Divisi Layanan dan Contact Center BRI, Joice Farida Rosandi menjelaskan, ada beberapa modus operandi cyber crime terhadap nasabah perbankan.

Pertama, SIM swap, yakni pelaku mendatangi operator untuk mengganti sim card korban yang disebutnya rusak. Kejahatan ini umumnya dilakukan dengan menggunakan KTP yang sebelumnya telah dicuri pelaku.

Setelah pihak operator memverifikasi, kemudian pelaku akan diberikan SIM card baru yang dapat digunakan pelaku untuk mengakses mobile banking nasabah. Dalam modus operandi ini, Joice menghimbau agar nasabah berhati-hati apabila KTP hilang.

"BRI dan empat bank besar lainnya sudah bekerjasama dengan tiga operator terbesar, mereka kooperatif untuk lebih ketat spesifikasinya. Saat ini SIM swap sudah jauh berkurang," ungkap Joice di Bogor, Ahad (6/3).

Kedua, card trapping yakni kartu ATM tersangkut di mesin ATM. Apabila hal ini terjadi, nasabah diharapkan langsung menelpon contact center bank bersangkutan dan jangan meninggalkan mesin ATM. Sebab, setelah nasabah pergi dari mesin ATM nantinya pelaku akan menggunakannya untuk mengambil uang nasabah.

Bahkan, ada juga modus operandi lain yakni dengan menempel nomor contact center palsu di mesin tersebut. Untuk mengatasi hal ini, ia mengimbau agar nasabah selalu menyimpan contact center bank di kontak ponsel, atau mengecek laman bank terlebih dahulu.

Ketiga, social engineering yakni satu modus dimana nasabah ditelpon dirayu dan diintimidasi sehingga nasabah mau memberikan nomor token untuk mobile banking. Keempat, card skeeming yakni pelaku memasang alat di mesin ATM agar saat kartu ATM masuk, alat tersebut akan mengcopy data nasabah di kartu tersebut.

"Kalo yang card skeeming ini, cari ATM yamg mulut ATMnya berbentuk seperti cocor bebek. Yang seperti itu tidak akan bisa dipasangi alat," ujar Joice.

Joice menegaskan, agar para nasabah untuk menggunakan password yang sulit, tidak dengan tanggal lahir atau angka berurutan dan sama. Untuk mobile banking pun diharuskan menggunakan password dengan kombinasi huruf dan angka. Untuk pengamanan lebih lanjut, nasabah juga harus mengganti pin ATM secara berkala.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA