Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

BI Catat Aliran Modal Asing Capai Rp 131,1 Triliun

Sabtu 04 May 2019 00:30 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Angka itu memperlihatkan kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan aliran modal asing sejak awal tahun 2019 telah mencapai Rp 131,1 triliun. Angka tersebut memperlihatkan kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia. "Aliran modal asing update sampai 2 Mei, menunjukkan year to date sebesar Rp 131,1 triliun," kata Perry di Jakarta, Jumat (3/5).

Perry menjelaskan aliran modal asing tersebut total terdiri atas Rp  6,3 triliun masuk ke investasi Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 66,1 triliun ke saham. Modal yang masuk ke SBN itu bahkan sudah lebih tinggi dibandingkan periode keseluruhan tahun 2018 yang full year tercatat Rp 57,1 triliun.

Baca Juga

Sedangkan, dana Rp 66,1 triliun yang masuk ke saham lebih baik dari periode sama tahun lalu yang justru mengalami aliran modal keluar Rp 51,9 triliun. "Terutama, karena adanya realisasi investasi di sebuah bank. Nilainya cukup besar, mulai masuk dan tercatat. Jadi, karena realisasi akuisisi bank oleh bank yang lain," kata Perry.

Dalam kesempatan terpisah, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan ketidakpastian politik yang hilang usai pemilu dapat mendorong dana masuk.

Dana yang masuk dari investor domestik maupun global ini akan suportif bagi pasar obligasi Indonesia yang sedang tumbuh. Menurut Ezra, aliran dana ini akan masuk lebih banyak apabila bank sentral memangkas suku bunga acuan seiring dengan pengetatan moneter The Fed yang tidak seagresif pada 2018.

"Narasi dovish The Fed di akhir bulan Maret membuka peluang untuk pemangkasan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Selama data-data ekonomi dalam negeri seperti inflasi, defisit neraca berjalan, serta nilai tukar cenderung stabil dan suportif," ujarnya.

Oleh karena itu, ia menilai, pemangkasan suku bunga dapat menguntungkan obligasi dengan tenor pendek maupun tenor panjang. Obligasi tenor pendek yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, akan bergerak lebih dulu dengan penurunan imbal hasil, yang dipengaruhi seberapa besar ekspektasi penurunan suku bunga acuan.

"Penurunan imbal hasil tenor pendek ini akan diikuti penurunan imbal hasil obligasi tenor panjang," kata Ezra. Sejauh ini, target obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7 hingga 7,5 persen. Target ini masih bisa direvisi turun jika BI melakukan pemangkasan suku bunga.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA