Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Pasar Respons Positif Keputusan BI Tahan Suku Bunga

Jumat 22 Feb 2019 06:15 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda

Bank Indonesia (BI): Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berisap menyampaikan pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/2).

Bank Indonesia (BI): Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berisap menyampaikan pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/2).

Foto: Republika/Prayogi
BI menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan menahan suku bunga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Kamis (21/2) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut bentuk upaya memperkuat stabilitas eksternal, khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. 

“Bank Indonesia juga terus menempuh strategi operasi moneter untuk meningkatkan ketersediaan likuiditas dalam mendorong pembiayaan perbankan,” ujarnya saat konferensi pers ‘RDG Februari 2019’ di Gedung BI. 

Baca Juga

Ke depan, Bank Indonesia akan menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan penguatan kebijakan sistem pembayaran dalam rangka memperluas pembiayaan ekonomi. “Koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait juga terus dipererat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan,” ucapnya. 

Sementara Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto menambahkan ada tujuh pertimbangan RDG BI memutuskan kebijakan yang cenderung longgar atau dovish tersebut. Pertama, karena faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia meskipun ketidakpastian pasar keuangan global sudah berkurang. 

“Maka tepat jika BI harus menjaga momentum pertumbuhan dgn menahan level BI7DRR,” ujarnya.

Kedua, pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil di kisaran 5,1 persen tetap butuh stimulus untuk terus terjaga sejalan dengan momentum yang tepat saat ini. Caranya, suku bunga kebijakan tidak boleh naik alias ditahan. 

Ketiga, neraca pembayaran Indonesia (NPI) membaik untuk menahan tekanan sektor eksternal. “Dengan menahan BI7DRR diharapkan NPI tetap terjaga pada batas aman dan sehat sekaligus menjaga posisi current account deficit (CAD) tetap di bawah 3 persen dari PDB sebagai batas aman,” ungkapnya. 

Keempat, di awal 2019 ini posisi rupiah relatif menguat stabil karena capital inflow yang makin kencang. Valuasi aset dalam rupiah juga akan meningkat seiring dengan terjaganya fundamental ekonomi domestik. 

Kelima, laju inflasi yang rendah di bawah jangkar yang 3,5 persen atau tepatnya 2,82 persen yoy per Januari 2019, memberikan ruang bagi BI untuk menahan BI7DRR. Keenam, stabilitas sistem keuangan (SSK) terjaga dengan baik dan solid disertai oleh fungsi intermediasi perbankan yang membaik serta risiko kredit yang terkelola dengan baik pula menjadi stimulus bagi BI untuk menahan BI7DRR. 

“CAR, NPL dan rasio likuiditas terjaga dgn baik dan solid sehingga memberikan jaminan bagi BI untuk mempertahankan BI7DRR di level 6 persen,” ungkapnya. 

Diharapkan, kombinasi faktor eksternal yang mereda dengan faktor domestik yang terkelola dengan baik memberikan sentimen positif bagi RDG BI menahan BI7DRR di level 6 persen. “Keputusan ini tentu positif baik bagi sektor perbankan maupun sektor riil dalam menjalani kuartal pertama 2019 dan kuartal-kuartal berikutnya.

Perbankan tetap akan ekspansi kredit dan sektor riil juga akan ekspansi bisnis di tahun politik yang prospektif dan menantang ini,” ucapnya.

Sementara Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai pertahannya suku bunga acuan ini direspon cukup positif karena sesuai ekspektasi pasar. “Dana asing masuk ke bursa saham hari ini sebesar Rp301 miliar. Bursa saham juga ditutup menguat 0,16 persen,” ungkapnya. 

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono menambahkan suku bunga tidak berubah berdampak pada capital inflow makin tinggi karena margin tidak turun. “Hal ini baik bagi kurs rupiah,” ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA