Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Pasar Global Bermasalah, Ekspor Indonesia Tertekan

Jumat 15 Feb 2019 14:38 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolanda

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution (tengah)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution (tengah)

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Perang dagang AS-Cina dan penurunan permintaan di India sebabkan ekspor turun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu penyebab menurunnya nilai ekspor pada neraca perdagangan Januari adalah dampak kondisi pasar global yang masih belum stabil. Perang dagang yang terjadi antara Amerika dan Cina masih terasa dan terbukti berdampak pada penurunan nilai ekspor pada Januari.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution tak menampik hal ini. Sebab, menurut Darmin pasar ekspor Indonesia masih didominasi ke Cina, Amerika, Jepang dan India. Perang dagang yang terjadi antara Cina dan Amerika kemudian membuat pasar ekspor juga menjadi turun.

"Nah Cina itu termasuk Amerika pertumbuhan ekonominya maupun perdagangan turun, jadi kita terpengaruh langsung dari perang dagang itu," ujar Darmin di Kantornya, Jumat (15/2).

Tak hanya Cina dan Amerika, India pun membawa dampak karena persoalan pembatasan serapan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Padahal, CPO merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia.

"Jadi kemudian pada saat yang sama india juga sedang ngerjain kita di CPO," ujar Darmin.

Ia pun menilai penurunan ekspor kali ini memang lebih karena faktor pasar ekspor yang sedang tidak kondusif. Ia tak sepakat jika penurunan ekspor kali ini disebut karena persoalan kemampuan puncak kemampuan ekspor negara.

"Jadi bukan karena itu, kita sudah melewati puncak dari kemampuan ekspor kita ini karena perkembangan dunianya cepat sekali sehingga adjustment lebih lambat," katanya.

Hal yang sama juga diamini oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto. Ia menjelaskan salah satu penyebab ekspor turun karena permintaan pasar ekspor sedang menurun. Apalagi, harga karet saat ini juga sedang jeblok. Hal ini mempengaruhi nilai total.

"Karet juga jeblok, karena itu pemerintah buat berbagai kebijakan, kita sadar ekspor kita terlalu basis komoditas," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jumat (15/2).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Januari kemarin mengalami defisit sebesar 1,16 miliar dolar AS. Defisit ini disebabkan oleh turunnya ekspor pada Januari kemarin. Nilai ekspor pada Januari kemarin turun 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total ekspor pada Januari kemarin sebesar 13,87 miliar dolar AS. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 14,55 miliar dolar AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA