Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

BI Sebut Rupiah Kemurahan dengan Kurs Rp 13.900 per Dolar AS

Jumat 08 Feb 2019 15:18 WIB

Red: Nidia Zuraya

Seorang petugas teller menghitung mata uang rupiah.    (ilustrasi)

Seorang petugas teller menghitung mata uang rupiah. (ilustrasi)

Foto: Republika/ Yogi Ardhi
Perdagangan rupiah pagi tadi dibuka di posisi Rp 13.995 per dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyebutkan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa hari terakhir bergerak di kisaran Rp 13.900 per dolar AS masih terlalu murah (undervalue). BI mengindikasikan masih terdapat ruang penguatan untuk waktu ke depan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan fundamental perekonomian yang menurutnya terus membaik, terlihat dari indikator inflasi, prospek pertumbuhan ekonomi 2019 dan juga neraca pembayaran. "Secara hitung-hitungan fundamental, rupiah kita masih undervalue, baik dari inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang akan lebih baik, dan juga NPI yang lebih baik," kata Perry di Jakarta, Jumat (8/2).

Baca Juga

Merujuk kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sejak Jumat pekan kemarin (1 Februari 2019), terus merangsek ke level kisaran Rp 13.970 dari sebelumnya di Rp 14.072. Pada Jumat (8/2) ini, kurs tengah BI menetapkan rupiah di Rp 13.992 per dolar AS.

Di pasar spot, Jumat (8/2) pagi, kurs rupiah dibuka di level Rp 13.995 per dolar AS atau melemah 22 poin dibanding posisi sebelumnya Rp 13.973 per dolar AS. 

Menurut analis ekonomi Samuel Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, pada hari ini, nilai tukar rupiah kemungkinan bergerak melemah karena pesimisme yang kembali muncul pada pelaku pasar atas penyelesaian perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina. "Kemungkinan kurs rupiah melemah karena isu perang dagang AS-Cina," ujar Lana. 

Kendati belum ada pernyataan resmi, tetapi pernyataan Presiden Donald Trump bahwa tidak ada pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Cina Xi Jinping, seperti mengkonfirmasi potensi kebuntuan pembicaraan mengenai kesepakatan dagang tersebut pada saat ini.

Efek perang dagang antara AS dan Cina terhadap perdagangan global, kata Lana, mulai terlihat. Neraca transaksi berjalan Jepang, misalnya, mencatatkan surplus pada Desember 2019, semakin kecil sejak empat bulan terakhir. Penurunan surplus tersebut terutama berasal dari neraca barang yaitu ekspor-impor Jepang.

Dia mengatakan kekhawatiran utama efek perang dagang AS-Cina berdampak pada melambatnya ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) juga merevisi proyeksi turun pertumbuhan ekonomi global dari 3,3 persen menjadi 3,1 persen untuk 2019.

"Kurs rupiah kemungkinan melemah ke tingkat Rp 13.980 per dolar AS sampai Rp 14.000 per dolar AS," kata Lana.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES