Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Tren Rupiah Menguat, Jokowi: BI Tunjukkan Taringnya

Selasa 27 Nov 2018 14:03 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Friska Yolanda

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/11).

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/11).

Foto: Republika/Prayogi
Berbagai kebijakan dilakukan Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang berupaya menstabilkan kurs rupiah saat anjlok terhadap nilai tukar dolar AS. Jokowi pun menilai Bank Indonesia juga telah menunjukan taringnya melalui berbagai kebijakan untuk melindungi rupiah agar tak semakin terpuruk.

"Ya bisa saja disebut taringnya BI keluar. Keberanian seperti inilah yang kita butuhkan, di saat menghadapi kondisi ekonomi dunia yang sekarang ini kita melihat banyak ketidakpastian," ujar Jokowi saat memberikan sambutan dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia Tahun 2018, Selasa (27/11). 

Jokowi mengatakan, berbagai kebijakan Bank Indonesia seperti melakukan intervensi pasar dan upaya menaikkan suku bunga untuk menstabilkan kurs rupiah saat ini telah memberikan hasilnya. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pun menguat menjadi Rp 14.500. 

"Saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada bapak Gubernur Bank Indonesia dan segenap jajaran Bank Indonesia, bahwa di tengah gejolak global yang mengguncang kita, BI terus membela kurs rupiah," kata dia. 

Lebih lanjut, Jokowi juga menyebut Bank Indonesia kembali menunjukan keberaniannya dengan menaikkan suku bunga rupiah sebesar 0,25 persen menjadi enam persen. Langkah BI itupun dinilainya mengejutkan pasar dan disambut positif. 

"Karena saya membaca laporan bahwa 31 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, hanya tiga yang punya ekspektasi BI akan menaikkan bunga hari itu. Dan saya lihat pasar benar-benar kaget oleh kenaikan bunga oleh BI," ujar Jokowi. Presiden pun menilai, langkah dan kebijakan BI tersebut menunjukan ketegasan BI untuk membentengi rupiah.

Rupiah memang menunjukkan tren penguatan sejak awal bulan ini. Sejak menyentuh level tertinggi Rp 15.200 pada bulan Oktober, kini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menguat. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah per Selasa senilai Rp 14.504 per dolar AS. Nilai ini menguat dibandingkan awal bulan ini yang sebesar Rp 14.764 per dolar AS (per 7 November 2018).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya mengungkapkan tiga penyebab nilai tukar rupiah menguat dalam waktu relatif cepat karena faktor eksternal maupun internal yang saling mendukung. Penyebab pertama adalah kepercayaan investor global yang meningkat karena membaiknya indikator ekonomi domestik seperti realisasi pertumbuhan ekonomi domestik kuartal III 2018 serta laju inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,16 persen hingga Oktober 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen tahun ke tahun (yoy), yang utamanya didorong oleh kinerja konsumsi rumah tangga. Perry menilai pasar merespons positif perbaikan data pertumbuhan ekonomi yang masih di atas lima persen dalam kondisi yang masih diliputi ketidakpastian serta laju inflasi yang masih berada di bawah sasaran 3,5 persen.

Penyebab kedua adalah pemberlakukan pasar valas berjangka untuk domestik atau Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang baru diterbitkan oleh bank sentral dan efektif sejak 1 November 2018 untuk menjaga pergerakan rupiah. Perry mengklaim pasokan dan permintaan di pasar DNDF sudah berjalan baik dengan total transaksi selama sembilan hari berjalan mencapai 115 juta dolar AS.

Penyebab ketiga adalah meredanya perang dagang antara AS dan Cina menyusul rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di perhelatan G20 pada akhir November 2018. Pertemuan pemangku kebijakan paling berpengaruh di dunia tersebut diklaim untuk membahas solusi perang dagang antara dua negara yang telah terjadi sejak awal tahun dan telah ditunggu oleh seluruh pelaku keuangan global.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA