Senin, 22 Ramadhan 1440 / 27 Mei 2019

Senin, 22 Ramadhan 1440 / 27 Mei 2019

Sandiaga: IMF Puji Sekaligus Koreksi Indonesia

Sabtu 13 Okt 2018 23:31 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andi Nur Aminah

Sandiaga Uno

Sandiaga Uno

Foto: Foto : MgRol112
dalam pujian itu IMF secara tersirat juga mengoreksi kebijakan ekonomi Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno menilai, kesan positif yang diberikan International Monetery Fund (IMF) kepada Indonesia bukan sekadar memuji. Lebih dari itu, menurut dia, dalam pujian itu IMF secara tersirat juga mengoreksi kebijakan ekonomi Indonesia.

Sandiaga mengatakan, koreksi dalam pujian itu merupakan salah satu ilmu tingkat tinggi yang dimiliki para pemimpin ekonomi dunia. Karena itu, masyarakat Indonesia jangan terlalu bangga dengan pujian IMF kepada Indonesia. "Mereka sebagai tamu memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia tapi juga mengoreksi pada saat yang sama. Dan saya apresiasi, ekonomi kita masih bertumbuh," kata dia di Posko Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandiga, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10).

Baca Juga

Ia menegaskan, yang perlu dibenahi pemerintah proses pertumbuhan yang berkualitas. Menurut dia, saat ini reformasi struktural yang selama ini diinginkan masyarakat belumlah tercapai.

Sandiaga menyontohkan, kritik yang empat tahun silam ditujukan pada pemerintah, khususnya di bidang sumber daya produksi nasional, tak ada perubahan. Ia menyebut, sektor pangan dan energi nasional hingga saat ini belum memadai. Akibatnya, pemerintah harus banyak mengimpor barang dari luar negeri.

"Sekarang kita belum fokus membenahi, perbaiki ekonomi kita. Kita belum melakukan industrialisasi dari sektor yang mengganti impor, sehingga ekspor kita menurun, impor kita meningkat. Itu yang menjadi masalah utama kita," ungkap dia.

Meski begitu, ia mengapresiasi pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengambil analogi dari seri film Game of Thrones. Menurut dia, dalam sesi 'Winter is Coming' memang menggambarkan kondisi dunia saat ini.

Artinya, lanjut dia, film itu hanya menggambarkan situasi eksternal Indonesia, bukan internal bangsa. Yang penting internal itu, sistem ekonomi internal yang perlu kita perbaiki itu bukan winter. Itu menurut saya kemarau yang sangat panjang sekali yang belum kita perbaiki sekarang ini. Kalau saya bilang drought," ujar dia.

Dalam pidato itu, kata dia, Jokowi hanya minta dunia menyikapi situasi perang dagang. Di sisi lain, Presiden Indonesia itu tidak bisa fokus ke industri dalam, yang seharusnya menjadi misi utama pemerintah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA