Sunday, 12 Safar 1440 / 21 October 2018

Sunday, 12 Safar 1440 / 21 October 2018

Tiga Poin Utama Konferensi Kelautan Internasional di Bali

Senin 08 Oct 2018 15:34 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda

Konferensi pers pelaksanaan The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activites (IGR-4 GPA) di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta,  Senin (8/10. Pertemuan internasional ini akan diadakan di Bali, Rabu (31/10) dan Kamis (1/11).

Konferensi pers pelaksanaan The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activites (IGR-4 GPA) di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Senin (8/10. Pertemuan internasional ini akan diadakan di Bali, Rabu (31/10) dan Kamis (1/11).

Foto: Republika/Adinda Pryanka
IGR-4 GPA ini diyakini menjadi platform untuk bertukar sudut pandang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konferensi berskala internasional The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activites (IGR-4 GPA) di Bali, Rabu (31/10) dan Kamis (1/11), akan mengangkat tiga poin utama. Tiga poin tersebut di antaranya penyebab pencemaran laut berbasis kegiatan di darat, sampah di laut dan limbah perairan.

Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) MR Karliansyah menjelaskan, tiga fokus pertemuan itu dituangkan dalam bentuk konferensi yang siap diikuti 108 negara.

"Diperkirakan, sebanyak 300 sampai 400 peserta akan hadir dalam pertemuan ini," tuturnya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian LHK, Jakarta, Senin (8/10).

Ratusan peserta tersebut datang dari berbagai latar belakang. Di antaranya Kementerian LHK dari berbagai negara, perwakilan badan-badan terkait PBB dan sektor private yang didakreditasi UN Environment Assembly. Para ahli dan anggota organisasi lainnya dalam kapasitas sebagai peneliti juga diperkirakan hadir dalam konferensi berskala lima tahunan ini.

IGR-GPA merupakan pertemuan negara-negara anggota UN Environment Programme (UNEP) yang sudah berkomitmen melindungi dan melestarikan lingkungan laut dari dampak negatif kegiatan berbasis daratan. Pertemuan pertema diadakan di Montreal, Kanada pada 2011 yang dilanjutkan dengan pertemuan kedua di Beijing, Cina pada 2006. Pertemuan terakhir dilaksankaan di Manila, Filipina pada 2012.

Karliansyah menambahkan, penyelenggaraan IGR-4 GPA juga akan membahas tiga agenda utama. Pertama, meninjau pelaksanaan GPA pada periode 2012 sampai 2017 yang dilaksanakan di Manila, Filipina. Kedua, kebijakan masa depan GPA periode 2018 sampai 2022 dan porgram kerja GPA periode 2018 sampai 2022 yang dilaksanakan melalui Coordination Office. Hasil-hasil kesepakatan IGR-4 tersebut selanjutnya akan dituangkan dalam dokumen Bali Declaration.

Selaku tuan rumah, Karliansyah optimistis, Indonesia akan mendapatkan berbagai manfaat. Di antaranya, memperkuat kebijakan dan strategi Indoneisa sebagai negara kepulauan di bidang perlindungan lingkungan laut. Baik dalam hal peningkatan kapasitas, sumber daya manusia dan pendanaan.

Tidak kalah penting, pelaksanaan IGR-4 GPA ini juga diyakini bisa menjadi platform untuk bertukar sudut pandang dan pengalaman untuk meningkatkan kerja sama, memperkuat kebijakan dan perencanaan pembangunan terkait pesisir dan laut. "Poin lainnya, konferensi juga mampu memperkuat sinergitas yang sudah berjalan di tingkat nasional dan daerah," ucap Karliansyah.

Duta Besar Indonesia untuk Nairobi sekaligus wakil tetap Indonesia untuk UNEP Soehardjono Sastromihardjo mengatakan, pelaksanaan IGR-4 GPA juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali dan sekitarnya. Sebab, para peserta yang hadir dari luar negeri diprediksi akan mengeluarkan dolar untuk berbagai kepentingan, terutama souvenir.

Di sisi lain, Soehardjono menjelaskan, IGR-4 GPA juga bisa dimanfatkan sebagai wadah promosi Indonesia sebagai destinasi wisata yang berpotensi. "Jadi, dampak yang terasa dari pelaksanaan konferensi ini bukan sekadar peningkatan kerja sama dan sebagainya, tapi ada sisi ekonominya," tuturnya.  

Sebelum penyelenggaraan IGR-4 GPA, telah dilakukan berbagai langkah persiapan pelaksanaan dalam kapasitas Indonesia sebagai tuan rumah. Termasuk, penandatanganan Host Country Agreement (HCA) antara pemerintah Indonesia dan UNEP. Selain itu, telah dipersiapkan substansi posisi Delegasi Republik Indonesia pada IGR-4 melalui pembahasan dengan melibatkan kementerian/ lembaga terkait dan daerah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES