Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

BI Optimistis Tekanan Rupiah Mereda pada 2019

Rabu 03 Oct 2018 17:28 WIB

Red: Nidia Zuraya

Gubernur Bank Indonesia - Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia - Perry Warjiyo

Foto: Republika/ Wihdan
Tekanan global maupun domestik pada tahun depan diprediksi akan berkurang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis tekanan terhadap mata uang rupiah akan mulai mereda pada 2019. Kondisi ini diprediksi akan terjadi seiring dengan tekanan global maupun domestik yang berkurang.

"Tekanan nilai tukar di tahun depan akan lebih mereda, tidak seberat tahun ini," kata Perry saat mengisi seminar di Jakarta, Rabu (3/10).

Perry menjelaskan salah satu alasan berkurangnya tekanan terhadap rupiah adalah karena kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed) pada 2019 tidak sebanyak di 2018. Hal ini bisa membuat pembalikan modal yang terjadi akibat penyesuaian suku bunga The Fed mulai berkurang dan menekan terjadinya pelemahan rupiah.

"Tahun ini kenaikan bunga terjadi empat kali, tahun depan hanya dua kali dan 2020 sekali. Ini yang bisa membuat ketegangan tidak berlanjut," ujarnya.

Selain itu, alasan lain redanya tekanan terhadap rupiah pada 2019 karena para pemegang portfolio akan kembali menanamkan modal ke negara berkembang setelah kondisi global membaik. "Investor global tidak mungkin terus memegang tunai. Mereka yang menarik dari negara berkembang, akan mulai kembali menaruh di negara berkembang termasuk Indonesia," kata Perry.

Ia menambahkan alasan lainnya adalah upaya pemerintah untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan mulai memperlihatkan hasil pada 2019 dan ikut memperkuat fundamental perekonomian. Perbaikan neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit tidak terlalu krusial dalam keadaan ekonomi normal, namun menjadi mendesak dalam keadaan penuh gejolak.

"Karena ada langkah bersama untuk menurunkan defisit, maka neraca transaksi berjalan bisa menjadi lebih rendah. Inilah mengapa tekanan nilai tukar tidak seberat tahun ini," ujar Perry.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA