Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Rupiah Melemah ke Level Rp 14.650 per Dolar AS

Jumat 24 Agu 2018 11:01 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

Foto: ANTARA
Pelemahan rupiah berlanjut menyusul isu perang dagang AS-Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (24/8) pagi bergerak melemah sebesar lima poin menjadi Rp 14.650 dibanding sebelumnya Rp 14.645 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail di Jakarta, Jumat, mengatakan, dolar AS menguat terhadap hampir semua mata uang dunia termasuk rupiah. Hal ini didorong oleh ketidakpastian terhadap isu perang dagang Amerika Serikat dan Cina.

"Pertemuan kedua belah pihak yang terjadi belum menghasilkan sesuatu yang berarti untuk menyelesaikan permasalahan perang dagang," katanya.

Pascapertemuan itu, lanjut dia, mata uang yuan Cina terdepresiasi terhadap dolar AS. Pelemahan itu berdampak negatif terhadap pergerakan mata uang rupiah. "Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran level Rp14.600-Rp14.690 per dolar AS," katanya.

Analis Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan sebagai mata uang safe haven, dolar AS mendapatkan keuntungan dari ketakutan dari gejolak dagang internasional.

Baca juga, Rupiah Melemah, Menkeu: Kita Seleksi Impor.

Ia menambahkan investor saat ini juga sedang fokus pada pidato ketua teh Fed Jerome Powell pada pekan ini. The Fed dapat terus menaikan suku bunga selama ekonomi AS terus tumbuh. "Jika pasar mengkonfirmasi kenaikan itu, maka dolar AS dapat terus menguat," katanya.

Pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi masalah pelemahan rupiah.  Salah satunya yakni dengan lebih selektif lagi dalam melakukan impor.

Ini penting guna memperbaiki neraca transaksi berjalan yang masih mengalami defisit. Untuk diketahui, neraca transaksi berjalan defisit sebesar 2,1 persen terhadap PDB pada kuartal pertama 2018.

"Kita akan mulai meneliti kebutuhan impor, apakah itu memang betul-betul yang dibutuhkan untuk perekonomian Indonesia dan secara selektif akan meneliti siapa-siapa yang membutuhkan apakah itu dalam bentuk bahan baku ataupun barang modal," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di kompleks Parlemen, Jakarta pada Selasa (3/7). 

Menkeu menjelaskan, pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan akan terus mewaspadai kondisi yang terkait dengan dinamika nilai tukar maupun dari keseluruhan perekonomian. Salah satu hal yang dicermati adalah defisit neraca transaksi berjalan.

Oleh karena itu, pemerintah akan berkoordinasi untuk bisa memperbaikinya dengan mendukung ekspor dan mendorong pariwisata sebagai kegiatan yang bisa menghasilkan devisa untuk negara.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA