Rabu, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Rabu, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Stabilkan Rupiah, BI Gelontorkan Rp 50 Triliun

Jumat 25 Mei 2018 15:44 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Budi Raharjo

Pelantikan Gubernur Bank Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menerima ucapan selamat dari undangan usai pelantikan di Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5).

Pelantikan Gubernur Bank Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menerima ucapan selamat dari undangan usai pelantikan di Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5).

Foto: Republika/ Wihdan
Tekanan nilai tukar sekarang ini terjadi ke seluruh negara karena faktor eksternal

REPUBLIKA.CO.ID, Perry Warjiyo secara resmi menjabat sebagai gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2018-2023. Kepastian itu didapat setelah Perry dilantik dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali di gedung MA, Jakarta, kemarin.

Namun, tantangan di hadapan Perry tidaklah mudah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menghantui seiring respons pasar keuangan global terhadap kondisi perekonomian di Negeri Paman Sam. Belum lagi sejumlah tantangan lain yang tak kalah sulit.

Apa langkah-langkah Perry setelah menduduki pucuk pimpinan bank sentral menghadapi gejolak tersebut? Berikut petikan pernyataannya kepada wartawan, termasuk wartawan Republika Ahmad Fikri Noor, selepas pelantikannya:

Mengapa rupiah masih terus tertekan terhadap dolar AS?

Tekanan nilai tukar sekarang ini terjadi ke seluruh negara karena faktor eksternal, khususnya yang terjadi di AS. Itu karena fenomena naiknya yield (imbal hasil) US Treasury atau obligasi Pemerintah AS yang naik. Semula kita perkirakan akhir tahun ini hanya 2,75 persen paling tinggi, tapi kemarin bahkan sudah 3 persen dan bahkan lebih tinggi. Ini fenomena yang membuat dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang dunia.

Sebabnya, yaitu kenaikan Fed Funds Rate yang tadinya kita perkirakan hanya tiga kali tahun ini, tapi ada kemungkinan sampai empat kali. Penyebab kedua adalah defisit fiskal AS yang lebih tinggi dari semula. Tahun ini di perkirakan mencapai empat persen, tahun depan lima persen terhadap PDB. Oleh karena itu, pembiayaan untuk defisit menjadi lebih tinggi. Dua sebab ini yang menyebabkan yield 10 tahun naik dan menyebabkan capital outflow pada seluruh negara berkembang.

Langkah apa yang akan dilakukan BI dalam waktu dekat?

Kami akan memprioritaskan kebijakan moneter untuk stabilisasi kurs dengan lebih mengombinasikan kebijakan suku bunga dan intervensi ganda. Kemarin, suku bunga sudah dinaikkan 25 basis poin (bps).

Kami juga akan merencanakan untuk lebih preemptive, lebih front loading, dan lebih ahead the curve dalam merespons kebijakan suku bunga. Kemudian, kami terus melakukan intervensi ganda demi stabilisasi kurs. Kami menyuplai pasar valas dan membeli SBN sekunder. Kami membeli hampir Rp 50 triliun SBN yang dijual asing. Kami terus lakukan untuk bisa lebih menstabilkan kurs.

Kemudian, kami melakukan koordinasi dengan pemerintah dan OJK untuk langkah bersama menstabilkan kurs. Ini terkait dengan bagaimana lelang SBN, buy back, dan lain-lain. Kami juga akan bertemu dengan kalangan perbankan dan dunia usaha yang banyak bergerak dalam devisa untuk meyakinkan mereka bahwa stabilitas nilai tukar itu penting dan BI berkomitmen untuk menjaganya. Ini tentu juga perlu dukungan perbankan dan dunia usaha.

Kebijakan pro pertumbuhan sekaligus pro stabilitas apakah akan efektif?

Kalau BI menaikkan suku bunga, dianggap pertumbuhan ekonomi akan turun. Itu kalau instrumen cuma satu. BI kan instrumennya banyak. Kalau suku bunga dinaikkan, bukan berarti pertumbuhan akan turun. Ingat, pengaruh itu baru berdampak pada pertumbuhan kurang lebih 1,5 tahun.

Kalau suku bunga naik sekarang, bukan berarti pertumbuhan akan turun kuartal depan langsung turun. Sementara, kalau nilai tukar dampaknya kurang lebih akan terasa dalam satu kuartal. Kemudian, BI punya instrumen lain. Jadi, BI ini moneternya pro stabilitas, tapi instrumen lainnya pro pertumbuhan.

Setelah resmi dilantik menjadi gubernur BI, apa yang akan Anda lakukan?

Yang utama saya panjatkan puji syukur ini amanat Allah. Saya ingin memberi pernyataan tiga hal. Pertama, saya akan membawa BI untuk secara penuh menjalankan mandatnya menjaga stabilitas ekonomi. Secara khusus stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah. Tentu saja, dalam menjaga itu saya tetap memosisikan untuk mendukung upaya pertumbuhan ekonomi. Saya pro stability (stabilitas), tapi juga pro growth (pertumbuhan). Itu visi saya.

Untuk menjalankan itu, BI mempunyai lima instrumen. Satu instrumen akan kami prioritaskan untuk menjaga stabilitas, yaitu kebijakan moneter. Kami prioritaskan itu untuk menjaga stabilitas. Tapi, kami juga punya empat instrumen lain yang akan kami gunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pertama, yaitu merelaksasi kebijakan makroprudensial. Secara khusus mendorong sektor perumahan karena sektor itu menjadi leading sector. Dengan mendorong itu, insya Allah pertumbuhan akan bertambah.

Kedua, adalah mempercepat pendalaman pasar keuangan, khususnya untuk pembiayaan infrastruktur, penerbitan sekuritas, berbagai obligasi untuk pembiayaan infrastruktur. Itu juga pro growth. Tentu, kami tetap berkoordinasi dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan pemerintah.

Kemudian, kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung strategi nasional untuk ekonomi dan keuangan digital. Itu juga pro growth. Sistem pembayaran mulai dari Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) serta elektronifikasi bantuan sosial, serta pengembangan fintech (financial technology), itu pro growth.

Kebijakan pro growth yang keempat adalah memperkuat akselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Baik pengembangan industri halal Indonesia, pengembangan sektor keuangan syariah, maupun pengembangan riset dan edukasi serta kampanye gaya hidup halal.

Koordinasi dengan pemerintah sudah dilakukan?

Saya sudah bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Kami berdiskusi panjang lebar mengenai berbagai hal, terutama masalah perekonomian. Kami sepakat untuk memperkuat koordinasi pemerintah dan BI untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan.

Kombinasi moneter dan fiskal bisa menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Tidak kalah penting, koordinasi untuk mempercepat sektor riil, baik pertumbuhan maupun untuk mengatasi defisit transaksi berjalan.

photo

Petugas menata pecahan dolar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta, Jumat (18/5).

Bagaimana dengan aspek-aspek krusial lain, seperti nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi?

Prioritas saya di BI dalam jangka pendek adalah memperkuat langkah-langkah untuk bisa segera menstabilkan nilai tukar rupiah. Itu prioritas kami dalam jangka pendek. Nilai tukar yang tertekan, khususnya sejak awal Februari 2018, itu lebih banyak karena tekanan eksternal.

Kondisi ekonomi domestik kita itu cukup baik. Inflasi tidak lebih dari 3,5 persen. Akhir tahun kita perkirakan sekitar 3,6 persen. Cukup bagus, cukup rendah. Inflasi inti malah lebih rendah, yakni 3,2 persen. Jadi, tetap terjaga stabilitas harga.

Pertumbuhan ekonomi 5,06 persen pada kuartal I, insya Allah pada kuartal selanjutnya akan naik. Perkiraan kami sekitar 5,2 persen full year. Memang kita menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tapi ternyata memang ada beberapa aspek faktor eksternal dan domestik yang tidak mendorong itu. Tapi, kalau kita bandingkan pertumbuhan 5,2 persen itu dengan negara lain sudah cukup baik.

Defisit transaksi berjalan masih cukup terkendali. Biasa kalau kuartal I itu agak naik dan jangan kaget kuartal II juga agak naik nanti. Itu pola seasonal. Persentase 2,1 persen terhadap PDB di kuartal I, mungkin agak lebih tinggi di kuartal II. Tapi, biasanya agak lebih rendah di kuartal III dan IV.

Secara keseluruhan defisit transaksi berjalan tahun ini tidak akan lebih tinggi dari 2,5 persen terhadap PDB. Untuk Indonesia pada kondisi sekarang ini, defisit transaksi berjalan sepanjang tidak lebih dari 3 persen masih cukup oke. n ed: muhammad iqbal

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Semangat Adul Menuntut Ilmu (2)

Selasa , 13 Nov 2018, 23:56 WIB