Friday, 8 Syawwal 1439 / 22 June 2018

Friday, 8 Syawwal 1439 / 22 June 2018

Rupiah Melemah, IHSG Berada di Zona Merah

Senin 21 May 2018 18:14 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Teguh Firmansyah

Pekerja melintas dengan latar belakang pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta, Selasa (15/5).

Pekerja melintas dengan latar belakang pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta, Selasa (15/5).

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Kenaikan suku bunga acuan dan penyusunan RAPBN 2019 belum berikan sentimen positif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) terus melemah sepanjang perdagangan, Senin, (21/5). Indeks saham ditutup turun 49,46 poin atau 0,86 persen di level 5.733,85.

Pagi tadi, IHSG juga dibuka melemah tipis atau 0,07 persen di 5.779,24. Indeks saham makin terperosok ke zona merah, jelang siang turun 0,68 persen ke 5.743.

Selanjutnya pada akhir perdagangan sesi I, IHSG ditutup melemah 0,72 persen atau 41,73 poin di level 5.741,57. Kemudian, jelang tutup dagang, indeks saham masih bertahan di zona merah dengan pelemahan 0,72 persen di 5.741.

"Pelemahan yang kembali terjadi masih merupakan kepanikan terhadap pelemahan rupiah yang belum juga tertahan," ujar analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, Senin (21/5). Adanya rilis suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang disertai optimisme para pejabat, kata dia, belum bisa memberikan imbas positif.

Penyusunan APBN 2019 menurut dia juga belum dapat memberikan pengaruh positif yang terimbangi dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan dolar AS. "Tetap mewaspadai terhadap sentimen-sentimen yang dapat membuat IHSG kembali melemah," kata Reza menegaskan.

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan hampir menyentuh Rp 14.200 per dolar AS pada Senin (21/5). Padahal, BI telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-day Reserve Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen pada Kamis (17/5).

"Pelemahan kurs pekan ini bisa sampai ke level Rp 14.300 per dolar AS," kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira, saat dihubungi wartawan, Senin (21/5).

Berdasarkan data Bloomberg USDIDR Spot Exchange Rate, perdagangan rupiah pada Senin dibuka di level Rp 14.175 per dolar AS dan ditutup di level Rp 14.190 per dolar AS, melemah 34 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan pada Jumat (18/5) di level Rp 14.156 per dolar AS. Perdagangan rupiah pada Senin berada di kisaran Rp 14.175-Rp 14.203 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia, nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp 14.176 per dolar AS pada Senin (21/5), melemah 69 poin dibandingkan Jumat (18/5) di level Rp 14.107 per dolar AS.

Baca juga, Lajur Kurs Rupiah Dekati Level Rp 14.200.

Bhima menambahkan, pemerintah bisa melakukan bauran kebijakan antara stimulus fiskal maupun moneter. Dari sisi fiskal, kinerja ekspor memang perlu didorong melalui berbagai insentif seperti tax holiday bagi perusahaan yang berorientasi ekspor. Sedangkan dari sisi moneter bisa diterbitkan aturan tentang kewajiban devisa hasil ekspor ditahan di bank dalam negeri dalam kurun waktu minimal 6-9 bulan seperti yang dilakukan Thailand.

Karena cukup mendesak, lanjutnya, bentuk paling tepat dengan Perpu UU No 24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. "Sejak awal tahun Thailand berhasil mengalami apresiasi 1,6 persen (YTD)," ungkapnya.

Menurut Bhima, langkah jangka pendek selain menaikkan suku bunga acuan adalah bunga kupon surat utang pemerintah untuk menahan keluarnya dana asing. Beberapa seri surat utang tidak laku karena kuponnya kecil. Jika dinaikkan, investor masih melihat SBN instrumen yang menarik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA