Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Hot Money Deras Keluar Indonesia, Ini Tanggapan BI

Jumat 04 May 2018 20:13 WIB

Red: Nur Aini

Petugas keamanan melintas didekat logo Bank Indonesia (BI), Jakarta, Ahad (1/10).

Petugas keamanan melintas didekat logo Bank Indonesia (BI), Jakarta, Ahad (1/10).

Foto: Republika/Prayogi
Imbal hasil surat utang Indonesia dinilai masih menarik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia mengatakan arus investasi jangka pendek yang keluar sementara (hot money) dalam beberapa pekan terakhir diyakini akan kembali ke pasar saham dan obligasi Indonesia karena imbal hasil dan fundamental ekonomi domestik lebih menarik.

"Investor masih setia. Kami meyakini penyesuaian portofolio oleh asing akan selalu kembali ke Indonesia seperti pengalaman-pengalaman 'outflow' sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah di Jakarta, Jumat (4/5).

Nanang mengakui memang ada dana keluar (outflow) yang cukup deras dalam beberapa pekan terakhir, terutama dipicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, Treasury Bill tenor 10 tahun, yang bergerak di kisaran 2,9-3 persen.

Namun dia enggan merinci berapa jumlah dana keluar tersebut, maupun portofolio investasi tersebut.S aat ini, imbal hasil SUN bertenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,9 persen. Angka itu, kata Nanang, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. "Dengan 'yield' yang menarik, itu akan membuat Indonesia lebih menarik. Tantangannya adalah bagaiaman investor ini tetap terus di Indonesia. Caranya adalah memastikan kebijakan moneter dan fiskal Indonesia ini kredibel dan konsisten," ujar dia.

Kebijakan moneter, kata Nanang, yang berhasil mengarahkan inflasi di ke rentang bawah dalam sasaran inflasi BI di 2,5-4,5 persen (yoy), ditambah dengan pemerintah yang mengendalikan defisit APBN di bawah tiga persen, akan menambah kepercayaan investor.

Saat ini, kata Nanang, tekanan modal keluar memang telah membuat rupiah melemah. Tingkat volatilitas pergerakkan rupiah hingga 4 Mei 2018, kata Nanang, sebesar 5,7 persen (ytd).

"BI intervensi hanya untuk memperlunak volatilitas (smoothing volatility). Jadi tidak usah panik," kata Nanang. Bank Sentral terus menggencarkan dual intervensi di pasar valas dan Surat Berharga Negara (SBN).

Nilai tukar rupiah pada Jumat ini menujukkan penguatan. Kurs Refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) yang diumumkan BI pada Jumat ini memperlihatkan rupiah diperdagangkan di Rp 13.943 per dolar AS atau menguat 22 poin dari Kamis (3/5) yang sebesar Rp 13.965 per dolar AS.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Inggris Bantai Panama 6-1

Ahad , 24 June 2018, 20:58 WIB