Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Rupiah Melemah, Ecky: Jangan Terus Salahkan Eksternal

Kamis 26 April 2018 09:53 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Teguh Firmansyah

Anggota Komisi XI DPR, Ecky Awal Mucharam

Anggota Komisi XI DPR, Ecky Awal Mucharam

Dana keluar ditengarai karena ada sentimen ketidakpercayaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi XI DPR-RI, Ecky Awal Mucharam mengingatkan pemerintah dan BI agar siaga dengan perkembangan nilai tukar Rupiah saat ini. Rupiah serang sudah hampir menembus Rp14.000 per dollar .

Ia meminta pemerintah dan BI tidak hanya menyalahkan kondisi eksternal saat pelemahan rupiah kini. "Yang seharusnya fokus pemerintah dan BI bekerja memperkuat fundamen ekonomi, untuk mengembalikan kepercayaan stakeholder terhadap perekonomian kita, kata Ecky, Rabu (25/4).

Kalau hanya mencari alasan dari kondisi global, khususnya kebijakan moneter AS tentu berpengaruh. Tetapi perlu diingat, bahwa menurunnya kepercayaan stake holder, pasar, investor dan publik pada Pemerintah menjadi penyebab.

 

Baca juga, Perbankan: Waspadai Nilai Tukar Rupiah.

 

Menurut Ecky adanya outflow dana juga terjadi karena ada ketidakpercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Misalkan risiko utang yang terus meningkat, serta pengelolaan fiskal yang tidak kredibel, yang tercermin dari shortfall pajak yang terus terjadi selama pemerintahan Jokowi.

Ecky menilai pemerintah gagal mengoptimalkan investment grade yang diraih tahun 2017. Utang yang ditarik nyatanya tidak menggerakan ekonomi, yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang medioker di antara negara-negara emerging market.

Pemerintah juga tidak berhasil memacu pertumbuhan sebagaimana yang dijanjikan saat kampanye dan diawal pemerintahan yaitu 7 persen  pertahun. Kondisi ini diperparah banyaknya proyek yang bersifat turn key project.

 

Ia mengingatkan melemahnya nilai tukar kurs ini patut diwaspadai, karena akan berdampak meningkatkan beban pembayaran utang Pemerintah maupun swasta yang berdominasi dollar. "Saat ini untuk utang Pemerintah saja, ada sekitar USD 109 Miliar yang memakai valas. Hal tersebut tentu akan membebani APBN," ujarnya.

Pemerintah berulangkali meminta agar publik tak perlu khawatir dengan pelemahan rupiah saat ini mengingat kondisi fundamental ekonomi yang cukup bagus. Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai rupiah seharusnya berada pada kisaran Rp 13.500- Rp 13.600 sesuai dengan fundamental ekonomi. Sementara Bank Indonesia menekankan akan terus melakukan intervensi pasar agar rupiah tak terus terdepresiasi.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 August 2018, 23:56 WIB