Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Indonesia Masih Berpeluang Catat Surplus Neraca Dagang

Jumat 16 March 2018 08:26 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Dwi Murdaningsih

Neraca Perdagangan Januari Defisit. Truk membawa peti kemas dari Pelabuhan New Priok Kalibaru, Jakarta, Ahad (18/2).

Neraca Perdagangan Januari Defisit. Truk membawa peti kemas dari Pelabuhan New Priok Kalibaru, Jakarta, Ahad (18/2).

Foto: Republika/ Wihdan
Surplus perdagangan Indonesia diprediksi tak akan sebesar tahun 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsultan Asian Development Institute Eric Sugandi memprediksi, Indonesia masih berpeluang mencatatkan surplus neraca perdagangan tahun ini. Ia mengaku tetap optimis meski dalam dua bulan pertama pada 2018, terjadi defisit neraca perdagangan.

"Indonesia masih bisa surplus jika harga komoditas masih terus naik dan karena ekonomi dunia tahun ini bisa tumbuh lebih cepat daripada tahun lalu," ujar Eric ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis (15/3).

Meski begitu, Eric menilai, surplus neraca dagang Indonesia tak akan sebesar tahun lalu yang mencapai 11,9 miliar dolar AS. Ia memprediksi akan terjadi surplus sekitar 5 hingga 8 miliar dolar AS.

Eric mengaku, Indonesia juga tetap perlu mewaspadai risiko perang dagang yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Cina. "Karena perlambatan ekonomi Cina akan bisa ganggu kinerja ekspor Indonesia," ujar Eric.

Berlanjutnya Tren Defisit Perdagangan

Ia mengatakan, ekspor dan impor secara keseluruhan mengalami penurunan pada Februari 2018 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Dilihat dari sisi ekspor, penurunan ekspor terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas energi. "Ini berpengaruh pada penurunan ekspor migas dan produk migas walaupun ekspor minyak mentah tetap naik karena demand-nya masih tetap kuat," ujar Eric.

Eric juga menyoroti, impor barang modal dan bahan baku mengalami penurunan pada Februari 2018. Ia menilai, penurunan itu terjadi karena perusahaan telah membeli barang-barang tersebut pada Januari 2018 atau kuartal terakhir 2017. "Mereka masih punya inventory untuk kegiatan produksi beberapa bulan," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES