Thursday, 6 Zulqaidah 1439 / 19 July 2018

Thursday, 6 Zulqaidah 1439 / 19 July 2018

ISEI: Minat Investasi Semakin Bertambah Tahun Depan

Jumat 15 December 2017 01:14 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Budi Raharjo

Investasi (ilustrasi)

Investasi (ilustrasi)

Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menilai minat investasi asing terhadap Indonesia akan semakin marak tahun depan. Terlebih lagi dengan adanya tiga instrumen baru yang dinilai memiliki risiko rendah yaitu KIK EBA (Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset), Project Bond, dan Global IDR.

Sebelumnya instrumen KIK EBA telah diterbitkan oleh Jasa Marga dan anak usaha PLN. Sedangkan Project Bond dan Global IDR sudah diterbitkan oleh Jasa Marga.

Ketua Focus Group Discussion ISEI Bidang Pembiayaan Infrastruktur Desty Damayanti menjelaskan, Jasa Marga merupakan BUMN pertama yang menerbitkan instrumen obligasi global dalam denominasi rupiah atau Global IDR. Sebelumnya instrumen obligasi global dalam dolar AS atau Global USD telah diterbitkan oleh beberapa BUMN lainnya.

"Kesuksesan Jasa Marga dalam menerbitkan ini menandakan asing punya appetite cukup tinggi di Indonesia. Apalagi yang menerbitkan adalah BUMN yang belum pernah menerbitkan global bonds," ujar Desty dalam konferensi pers ISEI di Jakarta, Kamis (14/12).

Menurut Desty, ISEI menilai ada banyak sekali proyek yang dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan sebagai alternatif mendapatkan pembiayaan untuk BUMN bersangkutan. Perusahaan yang dinilai perlu memanfaatkan ketiga instrumen ini untuk menambahkan pendanaan yaitu BUMN di bidang konstruksi yang memiliki target memperbaiki konektivitas di indonesia.

"Beberapa BUMN yang punya arus cashflow stabil itu mestinya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan dananya lagi (dengan instrumen- instrumen tersebut)," jelas Desty.

Umumnya, proyek yang dapat dijadikan underlying asset penerbitan obligasi yaitu proyek yang sudah berjalan (brown field). Adapun proyek- proyek yang dapat disekuritisasi dengan ketiga instrumen tersebut antara lain jalan tol, pelabuhan, dan bandara yang pemasukannya dapat diprediksi dari jumlah penumpang.

"Jadi BUMN ataupun proyek yang bisa meningkatkan income secara steady bisa dioptimalkan dengan membuat product structure. Tapi jangan salah, ini bukan jual aset, tapi mengoptimalkan aset yang ada. Dan dana yang ada bisa dipakai buat ekspansi," tutur Desty.

Selain meningkatkan pendanaan, di sisi lain, kehadiran tiga instrumen pembiayaan ini akan menambah kedalaman pasar keuangan. Menurut Desty ada tiga hal yang menjadi syarat pasar keuangan suatu negara maju, yaitu ada emiten yang menerbitkan, investor based yang cukup, dan memiliki banyak instrumen. "Kita ada tiga tambahan instrumen. Langkah yang bagus untuk bisa berkembang," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES