Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Cerita Semen Indonesia Saat Awal Menjadi Holding BUMN

Jumat 08 Dec 2017 20:39 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Foto areal pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, di Gunem, Rembang, Jawa Tengah, Rabu (22/3).

Foto areal pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, di Gunem, Rembang, Jawa Tengah, Rabu (22/3).

Foto: Antara/Yusuf Nugroho

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memastikan tak ingin pembentukan holding BUMN malah merugikan perusahaan negara tapi justru berharap meraih keuntungan dan mampu bersaing dengan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatawarta mengatakan holding BUMN diharapkan bisa membuat investasi BUMN mendapatkan hasil yang optimal.

"Jangan sampai sudah mengeluarkan Rp 1 tapi pendapatan juga Rp 1. Kita ingin BUMN maju lagi dan jangan terpisah-pisah," kata Isa Rachmatawarta, Selasa (5/12).

Dikatakan, sebelum dibentuk suatu holding, pemerintah memastikan tidak ada aspek yang tertinggal dan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tidak merugikan perusahaan, sehingga semua proses tata kelola berjalan dengan baik.

Isa mengatakan pula, pemerintah memastikan pembentukan holding BUMN memiliki tujuan yang mulia, yakni meningkatkan daya saing nasional.

"Kita ingin membangun daya saing. Itu tidak mungkin dengan satu BUMN, tapi harus sinergi dari beberapa BUMN," katanya.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Agung Wiharto, mengatakan perusahaan BUMN yang pertama kali melakukan holding adalah perusahaan semen. Pada tahun 1994 ada tiga perusahaan semen BUMN yang tergabung yaitu PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Padang.

"Memang bukan perkara mudah pada saat awal berjalannya holding karena adanya kekhawatiran dari manajemen dan karyawan, termasuk tingginya ego sektoral masing-masing karyawan BUMN," katanya.

Semen Indoneisa adalah BUMN yang pertama kali melakukan holding dan melakukan penawaran saham ke publik di bursa saham, dan menjadi perusahaan multinasional.

Dikatakan, hingga 1974, hanya ada tiga perusahaan semen yang menguasai pasar Indonesia yaitu Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa. Namun di tahun berikutnya, kapastias produksi ketiganya turun terus karena kalah cepat dengan pabrik semen swasta. "Karena pemerintah tidak punya modal untuk tambah pabrik," kata Agung.

Namun demikian, katanya, dengan telah terbentuknya holding semen, semen produksi BUMN makin bisa bersaing dengan perusahaan swasta nasional maupun asing yang banyak berada di Indonesia. "Kita menguaasai pangsa pasar terbesar dan terdepan di Indonesia," katanya.

Staf Khusus Menteri BUMN Wianda Pusponegoro, mengatakan pembentukan holding BUMN juga untuk menjadikan BUMN lebih besar, kuat, dan lincah.

"Besar, kuat, dan lincah itu hanya kata sifat saja. Tujuan akhirnya adalah agar BUMN lebih mampu melayani masyarakat, karena BUMN pada dasarnya milik rakyat," katanya.

Lebih lanjut Winanda memaparkan alasan mengapa perlu dibentuk holding BUMN, yaitu sebagai agen pembangunan nasional, menjamin pendanaan mandiri yang berkesinambungan sehingga tidak bergantung APBN, percepatan dan penguatan sektoral, hingga menjadi pemimpin di dalam negeri dengan memperkuat kapabilitas, menyelaraskan operasi, dan mencapai sinergi.

Ditegaskan pula holding BUMN bukanlah menjual BUMN ke swasta, karena 100 persen sahamnya masih dimiliki oleh Pemerintah.

"Kalau nanti jadi holding, peran pemerintah berkurang pada masing-masing holding? Itu tidak benar. Karena yang menjadi anggota holding itu 100 persen milik pemerintah. Pemerintah mengontrol sepenuhnya di sana," kata dia.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA