Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Asuransi Digital Diharapkan Bisa Menjangkau Pasar Milenial

Rabu 27 Mar 2019 17:17 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi Asuransi Jiwa

Ilustrasi Asuransi Jiwa

Foto: pixabay
Kendala utama dalam menerapkan insurtech yaitu sumber daya manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (Apparindo) Harry Purwanto mengungkapkan penetrasi produk asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Menurutnya, industri asuransi harus bisa mengikuti perkembangan teknologi agar bisa memperluas pasar. 

Baca Juga

Seperti halnya penggunaan teknologi dalam bisnis penyaluran pinjaman, perusahaan asuransi pun harus segera berinovasi ke sistem digital. "Mau tidak mau asuransi harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini dimana financial technology (fintech) berkembang pesat," ujar Harry, Rabu 27/3).

Dengan mengadopsi sistem digital, Harry yakin perusahaan asuransi bisa menjangkau pasar yang lebih luas khususnya di kalangan generasi milenial. Harry mengungkapkan, dari total 206 anggota Apparindo, tidak lebih dari lima perusahaan saja yang sudah mengenbangkan asuransi digital atau insurtech.

Menurut Harry, kendala utama dalam menerapkan insurtech yaitu sumber daya manusia. Pasalnya, tidak semua perusahaan memiliki sumber daya manusia  yang bisa mengembangkan asuransi digital. Meski demikian, asosiasi terus mendorong perusahaan asuransi untuk segera go digital.

Harry melihat, insurtech memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan pertumbuhan industri asuransi. Dengan insurtech, Harry memperkirakan pertumbuhan bisa bertambah dua sampai tiga persen dari 9-11 persen per tahun menjadi 13-14 persen per tahun.

Perusahaan asuransi digital yang baru saja diluncurkan di Indonesia yaitu WowPremi. Founder WowPremi Henry Wono Wong mengakui ada sejumlah tantangan mendasar yang harus dihadapi dalam mengembangkan industri asuransi digital. Salah satunya proses aktivasi yang memakan waktu lama dan berbelit-belit. Imej tersebut masih cukup melekat dengan asuransi.

"Lamanya proses aktivasi asuransi serta keterbatasan kantor cabang membuat masyarakat Indonesia memikirkan ulang untuk membeli asuransi," kata Henry. 

Untuk asuransi kendaraan, Henry menjelaskan, asuransi tradisional umumnya membutuhkan waktu paling cepat tiga hari agar dokumen polis sampai di tangan pembeli. Sedangkan asuransi kebakaran membutuhkan waktu sampai tiga bulan untuk mengaktifkan asuransi.

WowPremi sendiri sebagai perusahaan asuransi digital mengklaim bisa melakukan proses aktivasi kurang dari lima menit. Saat ini setidaknya WowPremi didukung oleh lebih dari 20 mitra asuransi diantaranya Asuransi Sinar Mas, Adira Insurance, MNC Insurance, Zurich Insurance, AXA Insurance, hingga BCA Insurance.

Henry menargetkan WowPremi bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan premi asuransi pada tahun ini hingga Rp2 miliar. Selain didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), WowPremi juga menggandeng gerbang pembayaran yang didukung oleh 21 Bank di Indonesia serta kartu kreditu untuk proses pembayaran asuransi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA