Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Bekraf Jaring Pengusaha Rintisan Kuliner Nasional

Selasa 13 February 2018 16:49 WIB

Red: Nidia Zuraya

Kuliner Indonesia memiliki cita rasa unik dan kaya rempah yang dulu membuat bangsa Eropa datang dan mengkolonisasi Indonesia.

Kuliner Indonesia memiliki cita rasa unik dan kaya rempah yang dulu membuat bangsa Eropa datang dan mengkolonisasi Indonesia.

Foto: dok Republika
100 startup terbaik akan mendapat kesempatan untuk memperluas jaringan.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui flatform Food Startup Indonesia akan menjaring lagi 100 pengusaha rintisan (startup) kuliner. Upaya ini dilakukan untuk mendorong kontribusi sektor itu dalam perekonomian nasional.

"Penjaringan startup kuliner itu dilakukan dalam program Demoday Food Startup Indonesia atau FSI 2018. Pengusaha diharapkan memanfaatkan momentum itu," ujar Deputi Akses Permodalan Bekraf," Fajar Hutomo di Medan, Selasa (13/2).

Dia mengatakan itu usai melakukan sosialisasi Demody FSI di Medan untuk kemudian dilanjutkan ke sembilan kota lainnya mulai Bandung, Makassar, Belitung, Semarang, Banjarmasin, Malang, Yogyakarta,Surabaya dan Mataram. Menurut dia, 100 startup terbaik akan mendapat kesempatan untuk memperluas jaringan, scale up melalui mentoring sekaligus menarik minat investor melalui pitching.

FSI, ujar Fajar, sudah diinisiasi Badan Ekonomi Kreatif Indonesia sejak akhir 2016. Pada 2017, FSI berhasil menjaring 2.005 data pelaku ekonomi kreatif kuliner dari seluruh Indonesia dan telah berhasil mengkurasi 150 food startup dan memilih tiga terbaik.

Dia menjelaskan, tiga terbaik FSI di 2017 adalah Matchamu, Ladang Lima dan Chillibags dan ketiganya sudah ekspor. "Demoday FSI dilakukan Bekraf karena sub sektor kuliner dinilai masih sangat menjanjikan di Indonesia untuk menggerakkan perekonomian nasional," katanya.

Dia menyebutkan, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB terus meningkat dari sekitar Rp 700 triliun hingga Rp 750 triliun pada 2014 menjadi mendekati Rp 1.000 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, dari hampir Rp1.000 triliun itu, kontribusi sub sektor kuliner mencapai 43 persen. Setelah kuliner, disusul fesyen 18 persen dan hasil kerajinan 16 persen.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES