Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Wamentan: Pengemasan Produk Harus Melek Tren

Sabtu 21 Jun 2014 15:13 WIB

Red: Nidia Zuraya

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan

Foto: antara

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan menilai dalam pengemasan produk, para produsen harus mengenal atau melek tren, apa yang diinginkan konsumen saat ini. "Pengemasan ada ilmunya, tidak sekadar membungkus saja, ilmunya adalah bagaimana dia (produsen) harus bisa mengenal tren," kata Rusman usai Pertemuan Nasional Hortikultura di Mataram, Sabtu (21/6).

Rusman mengatakan dengan menyesuaikan terhadap tren saat ini, bisa menambah menarik minat konsumen dan menambah daya saing dari produk itu sendiri. "Contoh, kalau boleh menyebut negara, Jepang itu terkenal sekali dalam pengemasan, walaupun isi yang di dalamnya itu biasa-biasa saja, tapi karena bagus orang pingin beli, bahkan kita ambil bukan isinya saja, tapi kemasannya juga jadi oleh-oleh," katanya.

Rusman menyadari petani di Indonesia belum seluruhnya sadar akan pentingnya pengemasan, untuk itu, agar lebih menyosialisasikan pengemasan itu, harus dihadirkan pedagang eceran yang lebih mengerti keinginan konsumen. "Harus dihadirkan 'retailernya', pedagangnya, dia yang tahu, kalau petani jaraknya jauh dari konsumen," katanya.

Rusman mencontohkan pengusaha Singapura yang dihadirkan ke Indonesia untuk memberikan edukasi kepada para petani dan pengolah terkait kemasan yang baik yang menarik minat konsumen. "Kita pada tahap sekarang, bukan lagi how to produce (bagaimana cara memproduksi) tetapi how to market or sell (bagaimana cara memasarkan atau menjual)," katanya.

Dia mengatakan jika pengemasan dilakukan dengan baik, kemungkinan Indonesia tidak perlu impor, terutama untuk produk hortikultura, seperti buah-buahan sayuran karena jika diolah menjadi jus atau dikemas dengan baik bisa tahan enam hingga tujuh bulan. "Ada istilahnya panic selling, harus menjual kalau tidak pas busuk, ini menjadi sia-sia. Seharusnya jika bisa disimpan di cold storage atau diolah, ketersediaan sayuran terutama cabai kan bisa sepanjang tahun," katanya.

Hanya saja, lanjut dia, budaya masyarakat Indonesia yang belum terbiasa dengan produk olahan atau cabai kering juga menjadi kendala. "Sebetulnya pengemasan itu menjadi excellent centre rangkaian terakhir sebelum diekspor," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES