Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Komunitas TDA Minta Waspadai Bisnis 'Abal-Abal'

Ahad 09 Mar 2014 23:09 WIB

Red: Julkifli Marbun

OJK

OJK

Foto: Wihdan Hidayat/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Pengurus pusat Komunitas bisnis Tangan di Atas (TDA) meminta kepada masyarakat dan anggotanya untuk mewaspadai praktik bisnis "abal-abal" atau tipu-tipu agar tidak mengalami kerugian secara materi dan menyesal di kemudian hari.

"Kondisi di Indonesia saat ini sudah darurat, tidak hanya darurat bencana, tetapi juga bisnisnya. Begitu banyak bisnis tetapi sebagian besar menawarkan mimpi-mimpi kosong, orang yang mengikutinya menyesal dan merugi," ujar Direktur Pengawasan dan Kepatutan TDA, Zainal Abidin di Makassar, Minggu.

Pria yang menggunakan akunl @jayteroris di twitter tersebut mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara "Mewaspadai Bisnis Abal-Abal, Kembali Ke Lapak" yang diselenggarakan TDA Makassar.

Direktur Social Entrepreneur Academy tersebut mengatakan banyak pengaduan dari anggota TDA terkait praktik bisnis abal-abal tersebut namun tidak ada lembaga yang mengatasinya. Karena itu jajaran TDA keliling Indonesia untuk melakukan sosialisasi.

"Otoritas Jasa Keuangan tidak esensial untuk melakukan pengawasan bisnis abal-abal bahkan sanksinya diragukan. Mereka melakukan pengawasan di saham dan reksadana, tidak di bisnis riil sehingga ketika ada kegagalan di bisnis abal-abal, mereka tidak bisa mengatasinya," katanya.

Zainal Abidin mengatakan pemerintah kurang peduli untuk mencegah bisnis tersebut dan baru diatasi kalau kasusnya mencuat di masyarakat.

Menurut dia, modus bisnis abal-abal bergerak pada tiga sistem, yakni multilevel marketing (MLM), investasi BO atau franchise.

"Kenapa MLM, jumlah anggota yang dihimpun banyak, tetapi dia berpotensi menghimpun dana masyarakat dalam jumlah banyak. MLM yang bagus kalau jumlah komisinya tidak lebih banyak dari jumlah uang yang disetor. MLM yang benar ada produk, kalau ambil uang dari member saja namanya money game," katanya.

Zainal mengatakan bisnis abal-abal sudah mulai ada sejak 1987 dengan berbagai bentuk seperti koperasi, arisan, investasi dalam bidang agribisnis, investasi emas, bank gelap, investasi syariah, menggunakan label ustadz, memiliki cabang di luar negeri.

"Kita mengenal kasus Yayasan Keluarga Adil Makmur, Suti Kelola, Arisan Danasonic, Banyumas Mulya Abadi, Koperasi Simpan Pinjam di Sulsel, Qurnia Subur Alam Raya, Probest Internasional dan sebagainya," katanya.

Zainal mengajak peserta untuk melupakan bisnis yang menjanjikan untung besar dalam waktu sekejap dengan kembali bekerja keras menekuni lapak masing-masing.
"Jaga bisnismu minimal hingga ulang tahun kelima. Banyak bisnis mati sebelum ulang tahun kelima. Dunia bisnis itu lari maraton, bukan lari sprint, jadi mesti tekun berusaha," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA