Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Grubi Jadi Oleh-Oleh Khas Yogyakarta

Kamis 27 Feb 2014 21:07 WIB

Red: Agung Sasongko

Malioboro Street in Yogyakarta (illustration)

Malioboro Street in Yogyakarta (illustration)

Foto: Antara/Noveradika

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Perajin grubi camilan tradisional berbahan ubi asal Desa Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mampu memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar terutama kaum perempuan.

"Maksud awal dari usaha ini adalah ingin memberdayakan masyarakat dengan penghasilan tambahan, dan saya bersyukur saat ini bisa mempekerjakan lima orang," kata perajin grubi asal Pedukuhan Geblak, Desa Bantul, Juwariyah di Bantul, Kamis (27/2).

Menurut dia, usaha skala rumahan yang telah dirintis sejak 2010 ini berawal dari keinginannya untuk menambah penghasilan keluarga, juga berbuat sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Dengan mempekerjakan lima orang dari warga sekitar itu, kata dia setidaknya usahanya bisa memproduksi sekitar 70 sampai 80 kilogram grubi per hari, yang dijual dengan harga Rp24 ribu per kilogram.

"Kalau pas pesanan banyak, bisa memperkerjakan 16 orang, inilah yang saya maksud memberikan manfaat kepada orang lain," katanya yang mengaku mendapat keterampilan membuat grubi dari salah satu teman di Jakarta.

Menurut dia, makanan tradisional ini berasal dari daerah Tawangmangu (Jawa Tengah), namun karena rasanya yang renyah dan manis juga disukai warga Yogyakarta dan sekitarnya, makanya usaha ini bisa dikembangkan di wilayah Bantul.

"Nama 'grubi' sendiri bisa diartikan sebagai gerakan rakyat untuk bangun Indonesia, seperti namanya, saya berharap produk ini bisa menguatkan masyarakat Indonesia terutama dari sisi ekonomi," kata Juwariyah.

Ia mengakui, meski baru tiga tahun berjalan produksi grubi dinilai berkembang pesat, karena grubi yang juga dikemas dalam plastik berisi 10 potong, pemasarannya sudah meliputi wilayah DIY yang menyebar di warung-warung dan toko oleh-oleh di Yogyakarta.

"Kami pasarkan melalui sales-sales yang jadi jaringan saya, ada juga pemilik warung-warung yang ngambil ke sini untuk dijual lagi, untuk swalayan sudah sampai 'Mirota', sementara produk ini bisa tahan tiga bulan," katanya.

Menurut dia, pembuatan grubi cukup sederhana, yakni dari ubi yang sudah dikupas dan dicuci bersih dimasukkan dalam mesin pemarut hingga menyerupai mi, kemudian digoreng sampai kecoklatan sebelum dicampur dengan karamel.

"Tiap satu kuintal ubi butuh sekitar 10 kg gula jawa, kalau sudah dicampur dengan karamel, bisa dicetak dan dikemas menggunakan plastik isi 10 grubi seharga Rp4.500 atau dus isi 24 dengan harga Rp13.000 dengan diameter lebih kecil," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES