Rabu, 9 Muharram 1440 / 19 September 2018

Rabu, 9 Muharram 1440 / 19 September 2018

Pertamina Tanda Tangani Kontrak Pertama 'Shale Gas'

Senin 06 Mei 2013 11:51 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pertamina

Pertamina

Foto: Antara/Widodo S Jusuf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) akan menjadi perusahaan pertama yang menandatangani kontrak kerja sama wilayah kerja shale gas atau gas nonkonvensional. Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro usai pembukaan lokakarya gas di Jakarta, Senin (6/5) mengatakan, penandatangan dilakukan bersamaan dengan kegiatan konperensi Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) pada pertengahan Mei 2013.

"Kontrak pertama shale gas akan diteken saat IPA pertengahan bulan ini," katanya. Ia mengharapkan, produksi pertama shale gas bisa dilakukan lima tahun ke depan atau 2018. Wilayah kerja Pertamina tersebut berlokasi di Sumatra Utara yang berdekatan dengan Aceh.

Berdasarkan data sementara, potensi shale gas di area itu mencapai 15 triliun kaki kubik (TCF). Menurut dia, sesuai regulasi, Pertamina bisa langsung mengajukan penawaran pengembangan shale gas, tanpa melalui tender.

Edy juga mengatakan, pihaknya akan mengumumkan lelang dua blok shale gas yang berlokasi di Riau dan Kalimantan Tengah. "Pengumumannya saat IPA juga," ujarnya.

Kedua blok tersebut akan ditawarkan melalui mekanisme penawaran langsung. Menurut dia, secara total, pemerintah sudah menerima 75 proposal pengembangan shale gas. Status proposal tersebut antara lain dalam proses studi bersama, sedang dalam proses, dan akan diproses.

Indonesia mulai mengembangkan shale gas sejak empat tahun lalu. Shale gas merupakan gas yang berada di batuan dangkal. Potensi shale gas Indonesia diperkirakan mencapai 574 TCF atau lebih besar dibandingkan gas metana batubara (CBM) 453,3 TCF dan gas konvensional 153 TCF.

Cadangan shale gas antara lain berlokasi di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Papua. Lokasi shale gas tidak sedalam gas konvensional yakni hanya antara 300-400 meter di bawah permukaan. Sementara, gas konvensional bisa mencapai 2.000 meter di bawah permukaan. Amerika Serikat diketahui telah memanfaatkan shale gas secara massal.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES